Part 48
Gema azan berkumandang, aku segera bangkit dari singgasana empuk ku, yang sebenarnya tak se-empuk itu. Meski sudah kutumpuk jadi dua lapis, namun pada akhirnya tak memberi kenyamanan yang luar biasa untuk raga ku yang rapuh ini. Tapi tetap, akan menjadi kasur yang selalu aku rindukan.
Segera aku membasuh wajahku dengan air wudhu lalu kugerakkan tubuhku sesuai dengan yang diajarkan dalam agamaku. Aku biasa melakukannya lima kali sehari. Tidak, mungkin tujuh sampai sembilan kali sehari. Aku cukup ambisius dalam hal ini.
Ingin rasanya aku kembali berbaring, tapi mataku tak bisa diajak kompromi. Mereka sepasang itu segar sekali kelihatannya, sampai enggan untuk menyentuh kasur. Akhirnya kuputuskan untuk meneruskan bacaanku, yaitu buku berjudul "Semua Ikan di Langit" karya Ziggy.
Aku tenggelam oleh buku itu, tak terasa jendela kamar sudah mulai terlihat menyala. Artinya matahari mulai menampakkan diri. Kalau matahari bisa bicara mungkin dia akan berkata "Halooo gaes, welcome back to reality". Eitss, tapi ini kan hari minggu wleee. Kali ini aku tak mengeluh saat melihat cahaya mentari, justru aku merasakan ketenangan yang luar biasa.
Aku sudahi membaca buku, lalu mulai aku melakukan ritual mingguanku: bersih-bersih kost. Tak banyak yang harus aku bersihkan, karena memang aku hanya tinggal sendiri, dan aku pun memang tipe orang yang suka menjaga tata letak barang. Kecuali, BULU MONO!
Kucing yang paling aku sayangi, kamu berak sembarangan pun aku tak akan marah, akan aku pungut tai mu itu dengan senang hati, tapi sedikit kesal. Tapi tak apa, karena aku sayang padanya. Si hitam putih gendut itu. Kucing manja dan galak itu.
Aku memutuskan untuk membuat kue. Hobi yang sudah lama tak kulakukan karena kesibukan kuliah dan pekerjaan. Aku punya blueberyy. Ah! akan aku buat blueberry cake versi low budget. Alias hanya bolu yang ditaburi blueberry dan isiannya pun juga blueberry utuh. Sungguh sangat tidak inovatif! Tapi tak mengapa, punya niat yang tersalurkan pun sudah luar biasa. Aku siapkan semua amunisi yang dibutuhkan. Timbangan, gula pasir, tepung protein rendah, telur dan lainnya. Aku timbang mereka semua dengan presisi, sesuai dengan resep yang aku baca.
Tak sulit untukku mengikuti resep itu, dan tibalah pada tahap akhir yaitu mengoven selama tiga puluh menit pada suhu seratus delapan puluh derajat.
Aku langsung membereskan semua peralatan yang sehabis kupakai. Tak sampai lima belas menit semua sudah bersih kembali. Aku duduk melongok isi di dalam oven. Mengembang! sungguh hal terindah untuk para baker.
Masih ada lima belas menit lagi.
Aku duduk di depan meja makan sembari menyesap jus mangga yang mangganya sudah tua, sehingga tak terasa segar lagi. Mataku melihat sekeliling, menatap tiap sudut kost ku. Kost tipe bangsal dengan dua kamar, satu kamar mandi, satu open space yaitu ruang tengah yang langsung terhubung dengan dapur tempat aku membuat kue itu. Melihat tempatku sudah bersih kinclong seperti ini membuat perasaanku berbunga. Rumah bersih, cahaya matahari menyusup lewat jendela membentuk sinar yang estetik. Semerbak harum kue yang hampir matang menyeruak ke seluruh ruangan. Mono mendekatiku dan mendengkur dengan manja.
Oh i love this. I love my life. Wish i could have more time like this. I want to live my life this way, oh God i wish.
Sungguh rezeki besar yang aku miliki saat ini. Bangun dengan perasaan tenang dan bersyukur masih bisa menghadap Tuhan. Bisa melihat cahaya yang indah masuk ke dalam ruangku seolah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka nyata dan hadir untuk menyapaku. Bisa mencium aroma yang luar biasa harum dari kue buatanku sendiri. Bisa ditemani oleh kucing yang lucu dan menggemaskan.
Tuhan, aku bersyukur atas semuanya. Maha Baik Engkau memberiku kenikmatan yang luar biasa. Izinkan aku untuk merasakan perasaan ini lebih sering, sehingga aku bisa selalu mudah untuk mengucap syukur