Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Part 50

Terbagi menjadi tiga section, JONATHAN, SORE dan WAKTU. Mereka lah pemeran utama dalam cerita ini. Sore selalu berusaha untuk merubah takdir bahwa dalam beberapa tahun ke depan Jonathan akan meninggal karena serangan jantung. Sore ingin merubah kebiasaan Jonathan agar memiliki pola hidup yang lebih sehat dan bisa hidup lebih lama. Sore juga ingin mencoba memperbaiki hubungan Jo dengan papanya yang tidak akur. Setiap kali Sore melakukan hal yang akan membuat takdir berubah, semesta akan looping dan Sore harus mengulang dari hari pertama bertemu Jo di masa lalu, dan akan terus begitu. Time traveling ini pun menggerus tubuh Sore, tubuhnya akan melemah terutama ketika ia merasakan jantungnya berdetak kencang ia akan mimisan dan pingsan, yang kemudian akan looping kembali ke hari pertama bertemu Jo di masa lalu itu. Seiring berjalannya waktu Sore sadar, bahwa ada tiga hal yang tidak bisa dirubah. Masa lalu, rasa sakit, dan kematian . Sore tidak bisa merubah masa lalu Jo. Sore tidak bisa mer...

Part 49

 Aku berjalan di sebuah basement. Dari kejauhan tampak sosok laki-laki tegap tinggi berisi. Tubuhnya kekar bak atlet timnas. Cara berjalannya yang mantap layaknya model. Mengenakan sweater coklat dan bertopi. Di tangan kirinya ia membawa bungkusan kresek putih yang sedikit transparan mirip seperti kantong kresek indomaret. Mungkin ia baru saja belanja. Aku menundukkan pandanganku karena kami sebentar lagi akan berpapasan. Aku memang selalu menghindari bertatap muka dengan orang asing, dan juga tak mau terlihat seolah angkuh dengan mendongakkan kepala dan pandangan tegak lurus. Namun tiba-tiba aku mendengar derap langkah orang itu semakin keras. Aku angkat pandanganku dan betapa terkejutnya aku ternyata ia berjalan cepat menghampiriku. Matanya membelalak, tangannya mengepal terangkat ke atas dan sedikit lagi mengenai kepalaku. Dia mengayunkan kepalan tangannya ke arahku, aku memejamkan mataku dan -------- Mataku terbuka, nafasku terengah-engah, keringatku bercucuran. Ternyata ini mi...

Part 48

 Gema azan berkumandang, aku segera bangkit dari singgasana empuk ku, yang sebenarnya tak se-empuk itu. Meski sudah kutumpuk jadi dua lapis, namun pada akhirnya tak memberi kenyamanan yang luar biasa untuk raga ku yang rapuh ini. Tapi tetap, akan menjadi kasur yang selalu aku rindukan. Segera aku membasuh wajahku dengan air wudhu lalu kugerakkan tubuhku sesuai dengan yang diajarkan dalam agamaku. Aku biasa melakukannya lima kali sehari. Tidak, mungkin tujuh sampai sembilan kali sehari. Aku cukup ambisius dalam hal ini.  Ingin rasanya aku kembali berbaring, tapi mataku tak bisa diajak kompromi. Mereka sepasang itu segar sekali kelihatannya, sampai enggan untuk menyentuh kasur. Akhirnya kuputuskan untuk meneruskan bacaanku, yaitu buku berjudul "Semua Ikan di Langit" karya Ziggy.  Aku tenggelam oleh buku itu, tak terasa jendela kamar sudah mulai terlihat menyala. Artinya matahari mulai menampakkan diri. Kalau matahari bisa bicara mungkin dia akan berkata "Halooo gaes, welco...