Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2024

Part 42

Hari berlalu, dan penyakitku semakin menyerang tubuhku. Sudah berapa kali aku berkunjung ke ruangan ini. Instalasi gawat darurat. Orang-orang selalu panik ketika aku datang. Entah mengapa kali ini ayah ada bersamaku. Tak seperti biasanya. Aku bingung namun aku memilih abai. Kondisi tubuhku sudah sulit, dokter memvonis bahwa aku harus mendapat donor. Tak kusangka ayahku lah yang akan menjadi pendonor. Aku begitu terkejut tapi aku tak mau memikirkannya, aku harus memikirkan diriku sendiri. aku sedikit berjalan kaki, namun aku terhenti karena nafasku tersengal. Orang-orang mengerumuniku, petugas medis menepuk-nepuk punggungku. Aku hampir meninggal. Aku diantar ke kamar ku, dan sekilas aku melihat ayahku sedang terbaring di kasur pasien dengan selang terpasang di badannya. Tak biasanya aku melihat pemandangan ini. Biasanya aku akan takut jika bertemu ayah. Tapi tidak kali ini, aku sangat berterimakasih padanya. ayah, semoga kerelaan berkorban untukku tidak hanya dalam mimpi. Aku sudah tak ...

Part 41

 Tak biasanya aku bangun sepagi ini. Kuraih ponsel di atas meja. Kucing hitam putih bernama Mono menghampiriku dan mengendus pipiku. Ucapan selamat pagi mungkin? Secara otomatis aku meletakkan ponselku dan lebih memilih untuk mengelus-elus kucing itu. Begitulah rutinitas pagiku. Aku bangun dari kasurku, pergi menuju dapur dan memasak sarapan. Aku tahu aku sangat bersemangat pagi ini. Aku ingin melakukan semua hal. Mencuci piring, menyapu dan mengepel. Mengisi mangkuk makanan Mono, air minum Mono, dan membersihkan kotak kotorannya.  Setelah aku selesai melakukan semuanya, ternyata aku masih punya sisa waktu. Aku melihat-lihat isi lemari dan memilih pakaian apa yang akan aku kenakan hari ini untuk ke kantor. Dan aku memutuskan untuk memakai nuansa biru. Dengan celana bahan berwana hitam bermodel kulot, atasan kemeja biru muda dirangkap dengan sweater batwing berwarna biru dongker. Dan jilbab warna ungu muda kebiruan. Aku putuskan memakai sweater karena akhir-akhir ini cuaca seda...

Part 40

 'Kenapa aku harus melakukan ini. Kapan aku bisa istirahat.' bisikku dalam hati. Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela kamar. Sudah pagi, tapi aku masih termenung di atas kasur tak berkutik. Menatap langit-langit kosong dengan pikiran yang juga kosong. Aku tak punya pikiran apapun tapi mengapa kepala dan tubuh ini rasanya berat sekali. Aku tau aku harus bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Tapi rasanya tubuh ini terlalu berat. 'Tak bisa kah aku berhenti hidup untuk hari ini saja?' Aku meraih handphone di atas meja untuk melihat jam berapa sekarang. Pukul 06.45 pagi. Akhirnya aku bangkit dari kasur dengan rasa malas yang tetap mengganggu. Mandi, mengenakan seragam, makan dan minum obat. Aktivitas ringan yang biasanya bisa aku lakukan dengan mudah, tapi akhir-akhir ini rasanya berat sekali. Tiap selesai lima atau enam gerakan, aku selalu terhenti dan pikiranku kosong. Rasanya sangat berat untuk bisa bangkit dan kembali melanjutkan aktivitas. Aku in...