Part 40

 'Kenapa aku harus melakukan ini. Kapan aku bisa istirahat.' bisikku dalam hati. Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela kamar. Sudah pagi, tapi aku masih termenung di atas kasur tak berkutik. Menatap langit-langit kosong dengan pikiran yang juga kosong. Aku tak punya pikiran apapun tapi mengapa kepala dan tubuh ini rasanya berat sekali. Aku tau aku harus bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Tapi rasanya tubuh ini terlalu berat. 'Tak bisa kah aku berhenti hidup untuk hari ini saja?'

Aku meraih handphone di atas meja untuk melihat jam berapa sekarang. Pukul 06.45 pagi. Akhirnya aku bangkit dari kasur dengan rasa malas yang tetap mengganggu. Mandi, mengenakan seragam, makan dan minum obat. Aktivitas ringan yang biasanya bisa aku lakukan dengan mudah, tapi akhir-akhir ini rasanya berat sekali. Tiap selesai lima atau enam gerakan, aku selalu terhenti dan pikiranku kosong. Rasanya sangat berat untuk bisa bangkit dan kembali melanjutkan aktivitas. Aku ingin dunia ini berhenti untuk sehari saja. Aku tidak ingin melakukan apapun.

Pada akhirnya aku harus tetap bekerja. Tak perlu bersemangat lagi, karena tak ada apapun yang menarik untukku. Tak ada hal yang aku tunggu. Aku tidak ingin ada hari esok. Aku menjalani hari ini dengan segala kejenuhan. Menghadapi berkas-berkas, menatap layar komputer sampai pandanganku buram. Pagi aku menunggu siang, sudah siang aku menanti-nanti sore hari. Dan tibalah saatnya pulang. Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Kantor yang sudah aku singgahi selama hampir 5 tahun. Sungguh tak ada yang membuatku bahagia di sini selain gaji dan tunjangan. 

Hari yang sangat berat untukku, meskipun aku hanya duduk dan menatap layar komputer dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Sampai di kosan aku merebahkan diri. Lagi-lagi aku menatap langit-langit kamar. Dunia ini sungguh sangat berat. Aku tidak ingin berangkat ke kantor lagi.

'Ting...' Layar handphoneku menyala. Sebuah notifikasi pesan di aplikasi whatsapp. 'Ada cerita apa hari ini?' tanya Bagas, pacarku. 'Gak ada apa-apa, ya kaya biasanya aja' balasku. Iya, memang begitulah adanya. Tidak ada yang menarik bagiku, tidak ada sesuatu yang baru. Semua berjalan seperti seharusnya. Tapi entah mengapa ini terasa berat untukku. Aku seperti tak punya energi lagi.

Sebuah telepon masuk dari Bagas. Sungguh aku sedang malas untuk mengeluarkan suara dari mulutku ini. Aku harap dia bisa membaca pikiranku sehingga aku tak perlu banyak bicara padanya.

'Halo ia, tadi gimana kerjaan aman aja kan?' tanya Bagas.

'Iya aman aja kok, gak ada yang aneh-aneh'

'Gak ada yang mau diceritain?'

'Apa ya.. gak ada yang bisa aku ceritain, kan tiap hari aku cuma gini-gini doang. Kamu kan tahu sendiri. Yaudah aku mau istirahat dulu ya'

'Oh oke kalau gitu..'

Aku menutup telepon. Sepertinya aku terlalu jahat karena tak menyambut dia dengan baik. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah tak punya tenaga. 

Aku bingung harus melakukan apa. Hanya merebahkan diri dengan pikiran kosong. Namun perlahan aku mulai terlelap dan menemui bunga tidur sore itu.

Aku berada di atap sebuah gedung tinggi. Semilir angin menerpa wajahku. Aku ketakutan hingga menangis. Aku melihat ke arah bawah dan merasa ngeri, tubuhku bergetar. Aku coba menapaki batas balkon gedung itu. Aku tidak sanggup.

Seseorang menarik lenganku. Tubuhku terpental ke belakang dan disambut oleh tangan orang itu. Dia memelukku dengan erat sedang aku menangis dengan terisak. Aku menengadahkan kepalaku ke atas berharap bisa melihat wajah orang yang menolongku..

Aku terbangun...

Perasaan aneh ini muncul, kebingungan, jantung berdebar, keringatku bercucuran. Tubuhku terasa sangat lelah. Sial, aku tak sempat melihat wajah pria itu. Aku masih ingat dengan jelas mimpi itu. Suasananya begitu mencekam, dan perasaanku terasa sangat aneh tak bisa kujelaskan.

Kembali aku menatap langit-langit kamar, hingga petang menjelang.

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57