Part 52
THE FIRST BOOK THAT MADE ME CRY
Sudah tiga hari aku terbaring di kasur. Sakit kepala yang tak kunjung usai membuatku enggan untuk bertemu matahari di luar sana. Tapi, hari ini aku ingin menentangnya. Nyeri yang masih membuatku meringis tiap aku melakukan gerakan besar, aku akan menjadikannya teman. Karena memang sejak aku remaja ia sudah kerap bermukim di kepalaku. Sudah menahun tinggal di dalam tempurung kepala ini.
Aku bersiap menuju mal yang tak terlalu besar namun menjadi salah satu destinasi favorit warga Samarinda. Di dalamnya terdapat sebuah cafe, dan itulah tujuan utamaku. Makan siang, membaca buku dan menghabiskan waktu. Kali ini aku beranikan diri untuk menenggak minuman berkafein yang sejak dulu aku hindari karena asam lambungku menolak keras. Selama aku isi perut dulu dengan makanan berat, aku rasa tak mengapa. Aku sudah muak dengan obat-obat pereda nyeri yang nyatanya tak menghilangkan nyeri kepalaku ini, aku akan coba minum kafein siapa tau bisa sedikit mengurangi nyeri dan memberi dopamin untuk tubuhku.
Makan selesai, ini saatnya aku meneruskan membaca buku yang sudah lama aku tinggalkan separuh jalan. Buku ini berjudul "Reasons to Stay Alive" karya Matt Haig. Aku membaca buku terjemahannya. Buku ini menceritakan tentang pengalaman sang penulis saat berjuang melawan depresi berat dan kecemasan di usia 24 tahun. Ia menggambarkan bagaimana rasanya saat mengalami serangan panik, bagaimana ia betahan menghadapinya, dan memperlihatkan betapa orang terdekatnya (keluarga dan pacarnya) memberikan support yang luar biasa dalam masa penyembuhannya.
Pada chapter satu ia menceritakan peristiwa dimana ia hampir akan terjun dari sebuah tebing di pinggir laut mediterania. Ia sudah mencapai bibir tebing namun ia diliputi perasaan bimbang antara hidup dan mati namun kemudian terlintas dalam pikirannya tentang keluarganya yang mencintainya. Saat itu ia juga merasa takut bagaimana jika ia terjun namun ia tidak mati? bagaimana kalau ia hanya lumpuh dan terjebak tanpa bisa bergerak dan malah terjebak dalam kondisi tersebut selamanya?
Aku langsung teringat dengan mimpiku beberapa tahun yang lalu. Dalam mimpi itu, aku berdiri di atap sebuah gedung tinggi. Aku berjalan perlahan menuju pinggiran atap dan menapaki pembatas di tepi gedung, dan berdiri tepat di ujung yang mana selangkah lagi aku bisa terjun bebas ke bawah. Aku merinding ketakutan saat itu. Tapi, yang membuatku mengurungkan niatku adalah, bagaimana kalau loncatku tak indah, aku akan mendarat dengan posisi jelek. Orang-orang akan menfotoku dan aku akan masuk ke breaking news di televisi. Akhirnya aku mundur.
Yang pertama kali membuat aku menangis ketika membaca buku ini adalah :
Ketika penulis menceritakan bagaimana keluarga dan pacarnya memberinya support yang begitu luar biasa. Ketika serangan panik muncul, keluarganya tak memaksa Matt untuk melawannya. Atau meminta Matt untuk menceritakan apa yang terjadi. Mereka hanya sekedar hadir dan memeluk Matt, atau bahkan hanya mengelus pundak Matt dan berkata "this too shall pass". Mereka selalu memberikan affirmasi bahwa Matt pasti akan sembuh.
Sedangkan aku
Aku selalu menghadapi semuanya sendiri. Aku pergi ke psikiater, ke psikolog. Minum obat tapi sampai sekarang aku masih berjuang. Mantan pacarku, ikut andil dalam hal ini. Tapi lagi-lagi penyakitku adalah tidak bisa mempercayai manusia manapun di muka bumi ini.
Mungkin mereka akan berpikiran bahwa aku hanyalah beban, bahwa orang lain yang memberiku trauma, tapi mereka yang harus menyembuhkanku. Mereka yang menjadi sasaran amarahku. Mereka yang harus menghadapi serangaku.
Dalam buku Matt Haig, ia menulis :
"Seseorang berkata bahwa kecemasan adalah pembunuh terbesar dalam cinta. Tapi untungnya, yang sebaliknya juga benar. Cinta adalah pembunuh terbesar kecemasan. Cinta adalah kekuatan yang memancar keluar. Cinta adalah jalan keluar dari ketakutan-ketakutan kita sendiri, karena gangguan kecemasan adalah penyakit yang membungkus kita dalam mimpi-mimpi buruk kita sendiri. ini bukan sikap egois, meskipun banyak orang menganggapnya begitu. kalau kaki Anda terbakar, bukan egois namanya untuk berkonsentrasi pada rasa sakit itu atau pada rasa takut terhadap api. Demikian halnya dengan kecemasan. Orang-orang dengan penyakit jiwa bukanlah sibuk memikirkan dirinya sendiri karena mereka lebih egois dari orang lain. Tentu saja tidak. Mereka hanya merasakan hal-hal yang tidak bisa diabaikan. Hal-hal yang membuat tanda panahnya mengarah ke dalam. Tapi memiliki orang-orang yang mencintai Anda dan Anda cintai sangat membantu. Cinta bukan berarti harus mempunyai hubungan romantis ataupun kekeluargaan.Memaksa diri melihat dunia lewat kacamata cinta juga menyehatkan. Cinta adalah sikap hidup, dan cinta bisa menyelamatkan kita."
Ah, teringat tahun 2019 saat masa terburukku. Aku menangis hampir setiap hari. Namun aku benar-benar tak paham dengan apa yang aku rasakan. Dia (mantanku saat itu) terus-terusan mendorongku untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku, tapi aku tak bisa. Aku hanya terus menangis karena aku juga tak tahu harus berbuat apa. Hingga pada akhirnya ia berkata padaku "kamu egois banget, cuma mikirin diri kamu sendiri. Aku juga bingung ngadepin kamu tiap hari cuma nangis. Sesekali pikirin perasaan aku, capek ngadepin kamu tiap hari kaya gini". Kalimat itu begitu menusuk hatiku. Bukan, bukan aku menentang apa yang dia katakan, justru kalimat itu menyadarkanku. Selama ini aku menghadapi semuanya sendirian, karena aku pikir aku tak seberharga itu bagi manusia manapun termasuk keluargaku. Dan ketika ia berkata itu padaku, aku sadar bahwa aku memang sudah tak berguna dan hanya menjadi beban. Saat aku menyadari itu, badanku otomatis bergerak bangun dan menggapai pisau. Aku akan menusuk tubuhku. Untungnya, sepersekian detik saat aku memegang pisau, aku langsung melemparnya jauh-jauh. Tubuhku melemas aku langsung jatuh terduduk. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang tubuhku lakukan barusan.
Tapi, aku sudah melewati itu semua. Mungkin saat ini dan di masa depan, akan datang masalah-masalah kecil yang harus aku hadapi. Merasa sedih itu pasti. Tapi seperti kutipan kalimat dalam buku Matt,
'Aku dulu pernah sakit, lalu sembuh. Kesembuhan itu mungkin terjadi'