Part 57

2023


Tahun yang tak pernah aku lupakan dan akan selalu membekas dalam hidupku. Awalnya aku kira aku hanya mengalami sakit biasa yang orang alami sehari dua hari atau paling lama seminggu. Tapi saat itu aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Aku terus-terusan kembali ke IGD dan rawat inap. Setiap aku selesai rawat inap, tubuhku tidak pernah benar-benar pulih. Bahkan salah satu dokter yang menjadi DPJP ku (Dokter Penanggung Jawab Pasien) sempat menanyaiku

"kamu merasa ada yang jahat sama kamu? ada yang gak suka sama kamu? Coba oles minyak ini ke leher, terasa panas gak. Kamu harus baca Al-Quran surah xxx empat puluh kali. Saya curiga ada yang kirim sesuatu ke kamu"

Aku hanya tersenyum kecil saat itu, tentu aku mengikuti saran dokter untuk rajin mengaji dan ibadah. Karena memang sudah kewajibanku untuk beribadah sebagai muslimah. Lalu ketika aku rawat inap lagi dan berganti DPJP dengan dua dokter rawat bersama, mereka sepakat bahwa terdapat indikasi aku terkena autoimun.

Bagaimana perasaanku saat mendengarnya?

Biasa saja...

Ah, mungkin hanya sebatas rambut rontok saat stress, atau kulit yang gatal. Mungkin sebatas sakit kepala saat aku kelelahan, itu sudah biasa untukku. Tak apa, itu bukan hal yang besar bagiku. Selama itu bukan penyakit yang menular dan membahayakan orang disekitarku, tak apa. Akan aku terima.Orang lain yang menerima diagnosa seperti itu mungkin akan langsung menangis. Tapi tidak denganku, aku tetap tenang dan menerima dengan lapang dada.

Hingga bulan kedua dan ketiga tubuhku tak kunjung pulih, malah timbul gejala-gejala yang lain yang bermacam-macam. Salah satunya, aku kesulitan berdiri dan berjalan kaki! Sungguh membuat kualitas hidupku benar-benar anjlok. Aku memiliki keterbatasan dalam beraktivitas.

Apa yang aku alami ini tidak bisa disebut sebagai disabilitas karena tidak perlu alat bantu, tapi tak bisa dianggap normal juga. Aku berada di kondisi yang serba salah.

Untuk menaiki dan menuruni tangga sungguh membutuhkan tenaga yang luar biasa besar. Jalan menanjak pun juga. Aku memang tak perlu kursi roda, tapi aku juga sulit melaluinya. Dan gejala lainnya yang terus menerus muncul dan menghantuiku setiap hari. Tak berhenti sama sekali. Orang lain sekilas melihatku pasti menganggapku sehat bugar, hingga akhirnya mereka melihat bagaimana aku berusaha menapaki tangga. Awalnya aku lelah menjawab pertanyaan orang-orang yang heran melihatku menaiki tangga dengan kewalahan, seperti naik ke puncak gunung saja. Tapi lama-lama aku terbiasa untuk menjelaskan bahwa aku punya penyakit autoimun, dan aku memiliki keterbatasan. Namun aku bukan disabilitas. Aku hidup dengan normal hanya saja tenagaku tidak sebesar orang biasanya. Aku seperti seorang pemalas yang berjalan sedikit saja sudah langsung mencari tempat duduk untuk beristirahat. Mungkin bisa aku paksakan seluruh tenagaku ini kukeluarkan, tapi di akhir hari kaki ku akan kesakitan luar biasa, kulitku akan timbul ruam merah, dan lain sebagainya.

Aku benar-benar jatuh di fase itu. Dunia rasanya runtuh, diusiaku yang seharusnya sangat produktif aku malah memiliki keterbatasan aktivitas. Belum sempat aku memenuhi wishlist untuk unlock pulau-pulau yang ada di Indonesia, mengunjungi negara-negara tetangga, tapi berjalan ke mal pun aku tak sanggup. Hidupku benar-benar berhenti. Pikiranku ke mana-mana, aku menangis. Bahkan kesedihan ini pun memperburuk kondisi penyakitku karena memang aku tak boleh stres berlebih, ini bak perputaran yang tak ada ujungnya.

Tapi melihat orang-orang di sekitarku yang terus menyemangatiku, bahkan terus berusaha untuk memahami dan mempelajari kondisiku, aku sangat berterimakasih pada mereka semua. Berkat dukungan mereka perlahan aku bangkit. Apapun saran yang baik dari orang sekitarku aku lakukan. Aku melatih fisikku sedikit demi sedikit, pola makan aku atur sedemikian rupa. Aku harus benar-benar menjaga asupanku. Terlebih, salah satu obat yang aku konsumsi ternyata membuat berat badanku naik drastis hingga hampi 10kg. Sempat membuatku down, tapi beberapa orang terdekatku berkata bahwa itu membuat penampilanku terlihat lebih segar. Aku akhirnya menerima nasib ini, tentunya dengan tetap menjaga pola makan agar tidak semakin bertambah berat badanku...

Sekarang sudah dua setengah tahun sejak diagnosa autoimunku. Aku hampir lupa menyebutkan bahwa penyakitku adalah autoimun jenis SLE atau lupus. Aku sudah jauh membaik dalam hal beraktivitas dibanding awal aku sakit. Walaupun seiring waktu tetap timbul gejala-gejala baru dan penyakit baru seperti penyumbatan pembuluh darah otak. Selama aku masih bisa menggunakan kaki ku untuk berjalan, selama lidahku masih bisa merasakan makanan enak, aku sangat-sangat bersyukur.

Sedih itu pasti, tapi yang lebih pasti adalah aku akan bangkit.