Part 56
THE ART OF MANIPULATION
By R.D. Asti
- Manipulasi itu kata yang netral. Persepsi dan reaksi kitalah yang membuatnya menjadi positif atau negatif. Selain itu, manipulasi itu ada di mana-mana dan bisa dilakukan oleh siapa saja -
Sebulan yang lalu aku baru saja selesai membaca sebuah buku yang berjudul The Art of Manipulation karya R.D. Asti. Aku membelinya secara random, karena kehabisan bahan bacaan. Namun ternyata buku ini cukup memberi insight baru untukku, juga membuatku mengenal diriku sendiri apakah aku termasuk orang yang manipulatif? Atau justru setelah membaca buku ini, dalam pikiranku jadi muncul nama-nama orang di sekitarku yang sering menggunakan teknik manipulasi dalam kesehariannya? Haha.
Aku akan mencoba merangkum apa yang sudah aku baca dalam buku ini.
Manipulasi adalah praktik menggunakan taktik tidak langsung untuk mengendalikan perilaku dan emosi orang lain. Meskipun sebenarnya sering dianggap negatif, manipulasi sebenarnya bukanlah hal yang bisa selalu dipandang buruk. Ada juga teknik manipulasi yang kadang kita butuhkan untuk mengelabuhi sesuatu demi mencapai tujuan yang baik.
Contoh kalimat manipulatif yang sering tidak sadar kita ucapkan dalam keseharian kita, seperti "Teman-temanmu saja setuju sama aku, pasti ada yang salah sama kamu" atau kita mengucapkan ke pasangan kita "kamu cantik, apalagi kalau kurusan". Atau ucapan kita ke rekan kantor "kamu gak ikut lembur? yang lain lembur semua loh". Secara tidak sadar, kalimat-kalimat tersebut akan mengenai perasaan lawan bicara dan membuat mereka merasa bersalah dan tidak percaya diri sehingga secara perlahan menuruti dan membenarkan apa yang dikatakan.
Beberapa kategori manipulasi antara lain:
1. Gaslighting
Contohnya "kamu terus-terusan menuduhku selingkuh, yasudah aku selingkuh saja sekalian". Orang itu secara tidak langsung malah menyalahkanmu atas kesalahan yang dia perbuat. Atau contoh lain "udah gausah dipikirin, gitu aja baper. Aku kan cuma bercanda". Dia justru menyalahkanmu atas bercandaan dia yang menurutmu sudah melewati batas, dan secara tidak langsung bisa membuatmu menyalahkan diri sendiri karena mudah tersinggung.
2. Love Bombing
Awalnya mungkin dia akan bersikap sangat manis, membuat kita meleleh dengan pujian-pujiannya atau act of service nya, atau bahkan hadiah-hadiah yang dia berikan. Namun ketika dia melakukan kesalahan dan kita menegurnya, dia akan mengatakan "aku kan sudah melakukan semua buat kamu, itu bukti aku cinta banget sama kamu", dia menjadi defensif. Atau bahkan jika dia menginginkan sesuatu dari kita, dia juga akan berkata bahwa dia sudah berkorban banyak untuk kita.
3. Silent Treatment
Ada kalanya diam itu emas, yaitu ketika terjadi suatu masalah kita ambil jeda sebentar untuk menenangkan diri. Namun jika diam terlalu lama dan justru menarik diri dan menjauh dari masalah, maka itu dinamakan silent treatment. Hal itu membuat lawan bicara kita menjadi serba salah dan bisa sampai menyalahkan diri atas apa yang terjadi.
4. Guilt Tripping
Guilt Tripping terjadi ketika seseorang membuat orang lain merasa bersalah, dan kemudian memanipulasi targetnya agar melakukan sesuatu berdasarkan rasa bersalah itu. Misalnya di kantor ada yang mengucapkan "selamat ya kamu dapat promosi, sayangnya aku tidak seberuntung kamu". Kalimat itu seolah menyatakan bahwa promosi itu didapatkan karena keberuntungan semata, bukan karena kerja keras sehingga membuat lawan bicara merasa tersinggung. Atau mengatakan "aku capek-capek lembur demi menyelesaikan pekerjaanku, tapi kok yang lain tidak ada yang repot sepertiku ya"
5. Playing Victim
Menganggap dirinya sebagai korban keadaan, yang bahkan mungkin dia sendiri lah biang masalahnya. Atau mungkin ada masalah sepele yang tidak seharusnya dibahas berlarut, tapi dirinya selalu mengungkit dan menempatkan dirinya sebagai orang yang paling dirugikan atas kejadian itu.
Itu lah beberapa contoh manipulasi yang bersifat negatif. Seperti yang dijelaskan pada paragraf awal, tentunya manipulasi juga bisa bersifat positif yaitu teknik manipulasi yang kadang kita butuhkan untuk mengelabuhi sesuatu demi mencapai tujuan yang baik. Contohnya untuk membujuk keluarga kita yang harus dibawa ke rumah sakit namun ia terlalu takut untuk bertemu dokter. Maka kita harus menggunakan teknik manipulasi agar tercapai tujuan yang baik.
Namun, di atas sikap manipulasi positif masih terdapat sikap ketulusan yang dapat kita gunakan untuk mencapai tujuan yang baik.