Part 42


Hari berlalu, dan penyakitku semakin menyerang tubuhku. Sudah berapa kali aku berkunjung ke ruangan ini. Instalasi gawat darurat. Orang-orang selalu panik ketika aku datang. Entah mengapa kali ini ayah ada bersamaku. Tak seperti biasanya. Aku bingung namun aku memilih abai. Kondisi tubuhku sudah sulit, dokter memvonis bahwa aku harus mendapat donor. Tak kusangka ayahku lah yang akan menjadi pendonor. Aku begitu terkejut tapi aku tak mau memikirkannya, aku harus memikirkan diriku sendiri. aku sedikit berjalan kaki, namun aku terhenti karena nafasku tersengal. Orang-orang mengerumuniku, petugas medis menepuk-nepuk punggungku. Aku hampir meninggal. Aku diantar ke kamar ku, dan sekilas aku melihat ayahku sedang terbaring di kasur pasien dengan selang terpasang di badannya.

Tak biasanya aku melihat pemandangan ini. Biasanya aku akan takut jika bertemu ayah. Tapi tidak kali ini, aku sangat berterimakasih padanya.

ayah, semoga kerelaan berkorban untukku tidak hanya dalam mimpi. Aku sudah tak takut lagi padamu.

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57