Part 2
Hai, namaku Arvia.
Ini adalah penggalan kisah hidupku mengenai keluargaku.
Aku lahir 7 September. Saat ini aku berada di usia remaja akhir. Aku dilahirkan di keluarga yang kata orang luar biasa. Ayahku saat ini sedang menempuh pendidikan S3. Sudah tua memang, tapi ayah tak pernah mau berhenti belajar. Ibuku guru musik di SMA. Dan untungnya aku mendapat bakat musik keturunan dari ibuku.
Aku anak ke-4 dari empat bersaudara. Iya aku anak terakhir. Anak terakhirnya saja sudah remaja akhir, lalu setua apa orangtuanya?
Orangtuaku sudah berumur setengah abad lebih. Ini menjadi hal yang paling menyedihkan dalam hidupku. Melihat orangtua semakin tua tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa bahkan sekedar untuk menyenangkan hari-harinya.
Aku lahir ketika ayah ibuku sudah tua. Ini menjadi beban tersendiri untukku, apalagi belakangan ini. Ketika aku belum benar-benar dewasa, orangtuaku sudah menopause. Hal yang bertolak belakang dengan jiwa muda yang sedang kualami. Sulit kuterima, tapi aku selalu mencoba mengerti, karena ini memang bukan hal yang orangtuaku inginkan juga.
Sebenarnya ini membuatku cukup terkejut. Mereka mengalami perubahan yang cukup drastis, dan aku bisa merasakannya. Ketika dulu ibu lebih banyak diam, menerima, mengalah, sekarang ibu mulai banyak meminta, menuntut dan mengeluh.
Tapi banyak yang bisa kupelajari dari hal ini, salah satunya mengubah prinsip, bahwa aku tidak ingin menikah di umur tua, dan aku tidak ingin memiliki terlalu banyak anak dengan rentang umur yang jauh. Karena aku kasihan pada anakku yang harus menghadapi kecerewetanku di masa tua sedangkan mereka masih muda dan sedang sibuk dengan dunia baru mereka.
Lalu ayahku,
aku minta maaf padamu ayah jika kau membaca ini, tapi, sejak kecil aku tidak suka padamu. Banyak hal yang tak aku sukai darimu. Ayah egois.
Seberapapun usaha ayah menunjukkan bahwa ayah menyayangiku, aku tetap tak suka pada ayah.
Ayah ingin aku menjadi anak yang pintar, masuk kampus yang terbaik dan dapat pekerjaan yang gajinya besar, kata ayah itu semua untuk kebaikanku? Untuk kebaikanku atau kebaikan ayah? Agar ayah bisa menyombongkannya pada teman-teman ayah, agar kelak ayah bisa ikut menikmati gajiku?
aku tidak tau. Karena ibu selalu meyuruhku menuruti ayah, baiklah aku ikuti. Aku menurutimu karena aku menyayangi ibuku.
Maafkan aku ayah, tapi karenamu aku tidak pernah sempat punya impian.
- Arvia Gariella, wanita biasa yang ingin tetap jadi biasa.
Ini adalah penggalan kisah hidupku mengenai keluargaku.
Aku lahir 7 September. Saat ini aku berada di usia remaja akhir. Aku dilahirkan di keluarga yang kata orang luar biasa. Ayahku saat ini sedang menempuh pendidikan S3. Sudah tua memang, tapi ayah tak pernah mau berhenti belajar. Ibuku guru musik di SMA. Dan untungnya aku mendapat bakat musik keturunan dari ibuku.
Aku anak ke-4 dari empat bersaudara. Iya aku anak terakhir. Anak terakhirnya saja sudah remaja akhir, lalu setua apa orangtuanya?
Orangtuaku sudah berumur setengah abad lebih. Ini menjadi hal yang paling menyedihkan dalam hidupku. Melihat orangtua semakin tua tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa bahkan sekedar untuk menyenangkan hari-harinya.
Aku lahir ketika ayah ibuku sudah tua. Ini menjadi beban tersendiri untukku, apalagi belakangan ini. Ketika aku belum benar-benar dewasa, orangtuaku sudah menopause. Hal yang bertolak belakang dengan jiwa muda yang sedang kualami. Sulit kuterima, tapi aku selalu mencoba mengerti, karena ini memang bukan hal yang orangtuaku inginkan juga.
Sebenarnya ini membuatku cukup terkejut. Mereka mengalami perubahan yang cukup drastis, dan aku bisa merasakannya. Ketika dulu ibu lebih banyak diam, menerima, mengalah, sekarang ibu mulai banyak meminta, menuntut dan mengeluh.
Tapi banyak yang bisa kupelajari dari hal ini, salah satunya mengubah prinsip, bahwa aku tidak ingin menikah di umur tua, dan aku tidak ingin memiliki terlalu banyak anak dengan rentang umur yang jauh. Karena aku kasihan pada anakku yang harus menghadapi kecerewetanku di masa tua sedangkan mereka masih muda dan sedang sibuk dengan dunia baru mereka.
Lalu ayahku,
aku minta maaf padamu ayah jika kau membaca ini, tapi, sejak kecil aku tidak suka padamu. Banyak hal yang tak aku sukai darimu. Ayah egois.
Seberapapun usaha ayah menunjukkan bahwa ayah menyayangiku, aku tetap tak suka pada ayah.
Ayah ingin aku menjadi anak yang pintar, masuk kampus yang terbaik dan dapat pekerjaan yang gajinya besar, kata ayah itu semua untuk kebaikanku? Untuk kebaikanku atau kebaikan ayah? Agar ayah bisa menyombongkannya pada teman-teman ayah, agar kelak ayah bisa ikut menikmati gajiku?
aku tidak tau. Karena ibu selalu meyuruhku menuruti ayah, baiklah aku ikuti. Aku menurutimu karena aku menyayangi ibuku.
Maafkan aku ayah, tapi karenamu aku tidak pernah sempat punya impian.
- Arvia Gariella, wanita biasa yang ingin tetap jadi biasa.