Ketika Jati Berdagang



Jati mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Setelah satu jam lamanya ia berkeliling komplek perumahan untuk menawarakan barang dagangannya, ia berhasil mengumpulkan beberapa lembar rupiah. Sudah tiga hari ini, Jati berjuang keras untuk mengisi  liburan sekolahnya dengan berjualan susu kedelai buatan ibunya. Ia berkeliling komplek perumahan yang tak jauh dari kampungnya. Ia belum akan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya laku terjual. Sekilas terbayang  raut muka memelas wajah Asih, adik satu-satunya.
Jati memang ingin mengumpulkan uang sekedar untuk membelikan obat adiknya, yang kini terbaring lemah tak berdaya. Hanya itu yang bisa dilakukan Jati, mengingat ayahnya yang bekerja sebagai buruh serabutan tak mampu membawa Asih ke Dokter apalagi Rumah Sakit. Pernah suatu ketika Asih dibawa ke rumah sakit karena penyakit radang paru-paru yang dideritanya. Namun, belum tuntas pengobatannya Asih harus segera dibawa pulang karena tak kuat menanggung biaya rumah sakit yang begitu mahalnya
Suatu hari Jati sedang berkeliling menjajakkan dagangannya. Berkilo-kilo meter jauhnya tetap ia jalani demi mencari selembaran uang kertas. Jam demi jam ia lewati, rumah demi rumah ia kunjungi untuk menawarkan dagangannya. Karena merasa lelah, Jati duduk di emperan gang. Tiba-tiba ada seorang lelaki gagah dengan jaket kulit menghampirinya.
“satu berapa dek?” tanya pria itu
“ satunya lima ribu pak, mau beli berapa?” tanya jati
“beli dua bungkus. Minta wadahnya sekalian ya dek.”
“baik pak. Ngomong-ngomong bapak mau kemana?” tanya Jati memulai pembicaraan.
“ini saya lagi jalan saja, saya juga lagi cari orang unutk mengantar barang, tapi sepertinya susah cari orang ya, kalau kamu yang mengantar bagaimana? Tenang saja, nanti pasti ada upahnya.” Kata pria itu.
Tanpa pikir panjang Jati mengiyakan tawaran tersebut.
“baik pak. Saya saja yang mengantar. Mau diantar ke mana memangnya?”
Pria itu pun memberikan Jati secarik kertas.
“tolong antar ke sini. Tapi ada satu syarat, kamu tidak boleh membuka barang ini. Dan juga barang ini harus sampai ke alamat ini. Apapun yang terjadi, cepat kirimkan barang ini. Jangan berikan pada siapapun sebelum kamu sampai ke tujuan. Ini kartu nama saya, kalau tugasmu sudah selesai, hubungi saya.”
“baik pak. Saya hubungi bapak kalau barang sudah sampai ke tujuan.”
Jati langsung bergegas pergi mengantarkan barang  itu. Namun dalam perjalanan tiba-tiba ia dicegat oleh segerombolan pria.
“hey! Lebih baik serahkan barang itu. Itu barang penting milik saudara saya.” Kata salah satu pria itu.
“maaf pak tapi biar saya saja yang mengantar, pasti sampai kok.”
“tidak apa-apa, kebetulan saya sedang tidak ada kerjaan”
“terimakasih sebelumnya pak, tapi ini sudah amanat untuk saya agar mengantarkan barang ini”
“bagaimana kalau saya tukar barang itu dengan uang? Berapapun yang kamu minta. Saya tau kamu sedang butuh uang.” Ucap pria itu sedikit mengancam.
Mendadak jati kebingungan. Apakah dia harus tetap menjaga amanatnya. Namun di sisis lain dia memang sedang membutuhkan uang untuk membayar biaya adiknya yang sedang sakit.
“baiklah” ucap Jati.
Jati memberikan barang yang ia bawa kepada pria itu. Ia pun mendapatkan seonggok uang kertas merah berbungkus koper hitam. Jati pulang ke rumah dan merenungkan apakah keputusan yang ia lakukan itu benar atau tidak. Dia terus memikirkannya sampai tidak bisa tidur.
Keesokan harinya dia bergegas menata barang dagangannya untuk kembali berjualan. Pukul tujuh pagi dia mulai menjajakan dagangannya. Saat dalam perjalanan, dia melihat seorang wanita berparas cantik sedang bingung mencari sesuatu. Jati langsung menghampiri wanita itu.
“maaf mbak, lagi nyari apa ya?” tanya Jati
“ini mas nyari dompet saya, hilang.” Jawab wanita itu.
“yaudah sini saya bantu cari ya”
“wah maaf jadi merepotkan lho mas”
“ah tidak apa-apa mbak”
Jati membantu wanita itu mencari dompetnya. Tak lama kemudian, jati menemukan dompet wanita itu di sekitar toko baju.
“mbak ini dompetnya kan?” tanya Jati.
“iya bener mas, alhamdulillah akhirnya ketemu. Makasih banyak lho mas”
“iya mbak sama-sama. Lain kali lebih hati-hati ya”
“hehe iya mas. Ngomong-ngomong, dengan mas siapa ya?” wanita itu menanyakan nama Jati.
“oiya, nama saya Jati mbak. Mbaknya siapa?”
“saya Nayla. Panggil aja Aya, jangan mbak ya. Kayaknya kita seumuran.”
“ok Nayla”
“kamu jualan apa Jati?”
“ini, aku jualan susu kedelai”
“hmm gimana kalau aku bantu kamu jualan?”
“waduh, tidak usah nanti merepotkanmu”
“sudahlah tidak apa-apa. Aku sedang tidak ada pekerjaan. Toh kamu juga sudah membantuku.”
“ok deh kalau begitu”
Akhirnya Nayla ikur Jati berjualan. Dagangan Jati hari itu cepat laku. Mungkin karena ada Nayla. Sejak hari itu, setiap dua hari sekali, dia selalu ditemani Nayla.
                Satu bulan berlalu, Jati mulai merasakan ada yang berbeda ketika ia berada di dekat Nayla. Kadang ia merasa berdegup kencang saat ia tahu bahwa ia akan bertemu Nayla. DI hari Minggu menjelang sore, Nayla dan Jati duduk bersama sembari melepas lelah setelah seharian berjualan. Jati menatap wajah Nayla. Nayla pun kebingungan dengan sikap Jati.Nayla bertanya pada Jati. Dan akhirnya Jati mengungkapkan perasaannya pada Nayla. Nayla diam seribu bahasa. Dia termenung. Dalam hati ia berkata bahwa sebenarnya ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Jati. Akhirnya Nayla pun mengungkapkan perasaannya.
Kumandang adzan maghrib terdengar, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya Jati di rumahnya, ia terkejut karena melihat adiknya terlihat pucat dan terbujur lemas di atas tempat tidur. Dia ingin membawa adiknya ke rumah sakit tetapi terpikirkan olehnya biaya-biaya yang harus ia bayar. Bahkan uang di dalam koper itu pun Jati masih belum berani menyentuhnya. Akhirnya, Jati hanya bisa merawat adiknya di rumah dan tak lupa selalu berdoa agar adiknya diberi kesembuhan.
Jati teringat akan uang itu. Hari demi hari ia lewati dengan dirundung rasa takut. Dia takut jika terjadi sesuatu pada keluarganya. Seminggu berlalu, ketika Jati sedang berjualan, ia dihadang oleh pria yang memberinya amanat mengantarkan barang. Pria itu menyeret Jati dan membawanya masuk ke mobil. Jati dibawa ke tempat yang ia tak ketahui. Sunyi, gelap dan pengap.
Dia dihajar pria itu hingga babak belur. Jati ditanya perihal barang itu, tapi ia tak bisa menjawab. Pukulan demi pukulan ia terima, ia hanya bisa melawan dengan rasa sesal akibat perbuatannya.
*
Nayla pergi ke rumah Jati berniat mengajak pergi berdua. Akan tetapi, yang ia temui sesampainya di rumah Jati adalah adik dan ibu Jati yang menangis tersedu. Nayla bertanya apa yang sudah terjadi lalu ibu Jati berkata kalau Jati sudah berhari-hari tak pulang. Nayla langsung tertegun. Dia sedih, mengapa hal ini bisa terjadi pada Jati.
“ibu tidak usah khawatir, saya akan mencari Jati.” Ucap Nayla.
“iya nak, ibu ikut denganmu mencari Jati.”
Mereka berdua pun mencari Jati sejauh mereka melangkahkan kaki. Ketika sampai di ujung kampung mereka, terdapat sebuah gedung tua kosong. Namun, ada sesuatu yang mengejutkan mereka berdua.
“loh ini kan sandal Jati!” kata ibu Jati.
“waduh, jangan-jangan Jati ada di dalam gedung. Ayo kita masuk saja bu.” Ajak Nayla.
“ayo”
Mereka berdua masuk ke gedung tua itu. Tiba-tiba ada orang menyekap mereka berdua, menyumal mulut mereka dengan kain, dan mengikat mereka berdua di kursi.
Pria berjaket kulit menemui Jati.
“nyawa ibu dan pacarmu ada di tanganmu. Jika kau ingin mereka selamat, bawa barang itu.” Pinta pria itu.
Akhirnya Jati menemui pria yang menukar barang itu dengan uang. Namun, yang terjadi, Jati malah disekap.
Tidak ada lagi yang bisa menyelamatkannya. Ayahnya membawa pergi adik Jati, dan menghilang selama berhari-hari.

-Arvia Gariella-

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57