Part 21

 20 Maret 2022

Seperti apa rasanya mendapatkan apresiasi?

Pujian? Atau sekedar ucapan syukur akan keberadaanmu?

Aku tidak tahu. Bahkan mungkin kehadiranku di dunia pun tidak diinginkan oleh orang tuaku. Orang bilang, anak terakhir pasti paling dimanja. Minta apapun dituruti. Itu semua tidak terjadi padaku. Yang aku rasakan adalah orangtuaku sudah tidak se-tertarik ketika mereka punya anak pertama. Excitednya sudah dihabiskan di anak pertama sampai anak ketiga.

Ketika tahu alasan ayah menikah lagi dengan wanita lain yaitu karena dia ingin punya anak laki-laki, aku jadi paham kenapa keberadaanku tidak begitu diharapkan. Anak pertama dan kedua perempuan. Katanya, Ibuku sempat melahirkan anak laki-laki, namun meninggal ketika masih bayi. Percobaan ketiga, yang keluar perempuan. Percobaan keempat, yang keluar aku.

Sudah tidak excited lagi pastinya :)

Kakakku yang ketiga, berjarak 2 tahun dariku. Kebetulan dia anaknya jenius, berbeda sekali denganku. Bodoh, pemalas dan pembangkang. Capek rasanya sejak SD selalu dibanding2kan dengan kejeniusan kakakku. Kakakku selalu ranking 1, aku selalu ranking akhir.

Dengar2 cerita dari orangtuaku.. Kakakku ini selalu dikasih susu formula bermerk, dengan takaran yang harus kental. Dan katanya dulu waktu aku kecil aku cuma doyan susu kental manis sama teh manis dimasukkin botol :) ingat sekali aku cerita2 itu. Pantas ya aku bodoh, sedari kecil aku sudah menolak diberi gizi hehe

Dulu aku suka sekali mewarnai. Tiap aku selesai mewarnai gambar, aku tempel gambarku di dinding kamar karena aku begitu bangga dengan hasilku. Esok harinya gambarku sudah bersih alias hilang. Siapa lagi kalau bukan ayahku yang membuangnya. Aku tidak menyerah, aku gambar lagi, aku tempel lagi, dan lagi-lagi ayah membuangnya. Mungkin gambarku jelek, yasudah.

Dulu, ayahku pernah jualan roti bikinan sendiri. Itu ketika aku masih TK atau SD awal. Ayah cerita kalau dulu kakakku pertama dan kedua, suka membantu ayah menjual roti di sekolah mereka. Ayah bangga dengan kakakku, karena memiliki jiwa usaha dan tidak malu untuk menawarkan barang dagangan.

Sementara aku.. Dulu ketika SD atau SMP (aku lupa persisnya) aku pernah menjual gelang buatan diriku sendiri. Aku minta tolong ibuku untuk membeli manik-manik atau payet dan tali bening (untuk gelang yang molor) di toko. Kemudian aku rangkai payet dimasukkan di tali, jadilah gelang. Dulu aku jual satu gelangnya 2rb-5rb. Teman2ku banyak yang beli, padahal modalnya hanya 2rb untuk satu jenis payet dan itu bisa untuk membuat belasan gelang. Aku merasa kaya raya waktu itu, karena modalnya pun dari ibuku xixixi

Tapi.. entah aku tidak mendengar cerita dari orangtuaku kalau aku ini berjiwa usaha. Mungkin yang kulakukan itu bukan hal yang besar. Mungkin aku hanya terlihat seperti main-main dengan prakarya


Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57