Part 22


Dulu ia adalah anak yang periang, suka menceritakan banyak hal, suka bernyanyi, suka berjoget. Ketika dia sedang bahagia dengan harinya, riang bernyanyi, ia dihentikan oleh ayahnya. Takut mengganggu tetangga katanya. Dulu ia terbiasa menangis dengan tanpa suara, sembunyi-sembunyi takut dilihat orang. Hanya dia saja yang perlu tahu bahwa ia sedang bersedih. Dia suka sekali bersembunyi di halaman samping dan belakang rumah. Bersandar di tembok, berjongkok dan menangis tersedu-sedu. Sambil menatap semut yang belalu lalang di tanah.

Suatu hari dia sedang bermain bersama teman-temannya di samping dekat rumah, Ayah dan kakakknya lewat naik motor. "iaa mau ikut gak?" tanya Ayahnya. Tapi belum sempat dijawab, mereka sudah pergi duluan. Dia tidak suka. Kenapa hanya kakak yang diajak. Dia pulang dengan rasa marah. Dia marah-marah ke Ibunya, meminta lain waktu dia yang diajak keluar tanpa kakak. Ibunya hanya mengiyakan. 

Di ruang tamu, dia menunggu ayah dan kakaknya pulang. Mereka pun tiba, ternyata mereka berdua keluar untuk membeli jajan. Tak sempat berkata apapun, ayahnya tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan anak itu dan membawanya ke depan pintu rumah. Tubuh kecil itu ditendang dengan kaki yang kekar. Tubuhnya tersungkur jatuh ke teras. Pintu rumah dibanting dengan keras oleh ayahnya. Pintu tertutup rapat. Mungkin biasanya anak kecil akan teriak menangis dan terdengar oleh tetangga. Tapi tidak dengan anak kecil ini. Ia menahan tangisnya. Ia segera bangkit dan bergegas menuju rumah neneknya yang berjarak 500m. Rumah demi rumah ia lewati dengan menerjang hujan gerimis dan menahan tangis. Sampai di rumah nenek, ia tidak menemui seorangpun. Ia masuk ke halaman samping rumah nenek yang terdapat kandang kelinci. Ia jongkok di depan kandang kelinci dan menangis terisak. Suara tangisannya beradu dengan gerimis hingga tak seorangpun di rumah itu yang menyadarinya. 

Beberapa jam kemudian, ia melihat ibunya menjemputnya. Ia kabur masuk ke kamar mandi, karena ia tahu pasti ibunya akan menyuruhnya pulang. Pulang artinya bertemu dengan ayahnya.
Ibunya merayu agar ia mau diajak pulang karena hari sudah sore.

"Ayo pulang iaa, bapak tu beli jeruk. Habis pulang kamu tak ajak kondangan. Kalo gak mau pulang, mandi di sini aja, ibu ambilin baju ganti ya?" kata ibunya.
"iaa gak mau pulang" Kata anak kecil itu dari dalam kamar mandi.

Setelah perdebatan yang tidak begitu panjang, akhirnya anak itu berhasil dibujuk. Pulanglah anak itu dan ibunya ke rumah. Sampai di rumah, ayahnya sedang duduk tertawa-tawa seperti tidak ada yang terjadi. Ayahnya memberi satu buah jeruk, lalu ia pergi bersiap

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57