Part 25
Nyatanya, aku tak sepenting itu...
Mungkin benar bahwa aku egois jika memaksakan kehendak pasanganku untuk menuruti permintaanku. Padahal, ia lebih mementingkan teman-temannya. Momen bersama temannya yang tak akan pernah terulang. Sebaliknya denganku. Kami masih akan bertemu setiap hari, tak ada alasan kuat untuk menunda janji kami berdua. Masih ada hari lain yang akan kami temui. Mungkin 2 tahun kedepan baru bisa menunaikan janji? Atau 5th lagi? Yang jelas kami meyakini bahwa rencana-rencana kami masih bisa kami tunda untuk tahun-tahun berikutnya.
Yang aku pahami, aku tak boleh egois
Dunianya bukan hanya aku
Jika memang keputusan itu menurut dia yang paling baik, aku akan terima.
Menjaga perasaan temannya dengan mengorbankan perasaanku
Toh, perasaanku ini bisa diobati, karena kami masih akan bertemu di hari lain. Tidak dengan temannya
Setahun yang lalu sepertinya, aku pernah memintanya untuk menemaniku berkeliling di kota tempat tinggalnya. Aku sudah memajukkan jadwal ku ke jogja, agar bisa menyempatkan ke kotanya. Namun, tiba2 dia bilang lain waktu saja, katanya karena aku sudah terlanjur sampai di Jogja. Bolak-balik nanti katanya.
Seharusnya sejak peristiwa itu aku sudah bisa memahami, bahwa ia mudah menyingkirkan janji. Namun kenyataannya aku dipatahkan lagi
Kini aku mengerti, bahwa menaruh harapan pada manusia memang tidak pernah pantas. Aku tidak akan menuntut apapun lagi
Bukan aku tidak percaya bahwa dia tidak bisa menepati janji, tapi berharap seperti ini sangatlah menyakitkan