Part 27
Aku sudah cukup bekerja keras. Bahkan lebih dari cukup.
Serasa tubuhku ini tak mau kuajak bekerja sama, jika tubuhku bisa berbicara mungkin dia akan memarahiku karena hampir remuk dan hancur. Aku merasa aku harus melakukan ini. Aku ingin menangis tapi sesuatu menahanku. Aku harus tetap menyelesaikan semuanya.
Aku bukan arvia gariella
Aku sedih tapi aku harus tetap bekerja keras. Tak ada yang boleh tau kalau aku sedang bersedih. Tak siapapun.
Apakah kakak perempuanku menyayangiku? Sepertinya iya. Dia juga bekerja keras untukku.
Aku sedih, tapi aku tak boleh membebani kakakku. Aku harus bekerja keras.
Aku lelah
Aku sedih, aku ingin teriak.
Suatu hari aku lihat kakakku bersama pacarnya. Mereka makan bersama dan berbincang. Aku tak mendengar jelas percakapan mereka namun aku tau kalau kakakku membicarakanku. Dia lelah denganku. Dia muak, dia tak tahan denganku.
Aku sakit mendengarnya.
Kuputuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Aku berjalan menuju taman dengan pohon besar yang terdapat tangga menuju atas pohon, mirip seperti rumah pohon. Sore hari kala itu, masih terdapat beberapa pengunjung yang ada di sana.
Aku terdiam beberapa saat, terngiang akan percakapan yang aku dengar dari kakak perempuanku. Tidak, dia tak bersalah. Aku lah penyebab semua lelah yang dia rasakan.
Di atas rumah pohon itu aku terdiam. Rasanya sakit sekali aku ingin menangis tapi tertahan oleh sesuatu yang aku tak tahu. Ku lihat ke arah bawah. Haruskah aku mengakhiri semua ini?
Langit semakin gelap. Aku semakin sakit
Terisak aku tanpa seorangpun kulihat di sekitarku. Suasana semakin gelap. Terus menerus ku menengok ke bawah sana. Haruskah aku?
Apa aku bisa mengakhiri semuanya kalau aku lompat sekarang?
Rasanya sakit sekali aku hampir tak kuat. Aku terus terisak.
Haruskah aku lompat?
