Part 28
Sebenarnya apa itu trauma?
Kenapa aku benci mendengar kata trauma. Seolah-olah orang yang mengaku dirinya punya trauma adalah orang yang lemah. Padahal, peristiwa sudah berlalu untuk apa dia terus-terusan mengingat kejadian itu?
Aku kah orang lemah itu?
Bertahun-tahun lalu peristiwa-peristiwa itu terjadi. Tapi mengapa perasaan takut dan benci ini masih aku rasakan sampai sekarang? Sepertinya aku memang terlalu lemah.
Lagi-lagi aku tertidur dengan segala kecemasan yang datang dari semua penjuru arah. Dalam mimpiku aku berada di suatu kamar yang nampak asing tapi aku tahu bahwa itu adalah kamarku sendiri. Menatap langit dari sudut bawah jendela adalah hal menenangkan untukku. Sampai suatu ketika manusia itu muncul di seberang jendela. Aku membenamkan wajahku agar tak tampak olehnya. Berharap ia segera pergi dan tak masuk ke rumahku atau bahkan mengetahui bahwa aku ada di sini. Aku angkat kepalaku agar bisa menilik manusia itu dari balik jendela.
Oh tidak, mata kami bertemu. Sungguh aku takut setengah mati. Layaknya dikejar penjahat yang bisa membunuhku dengan jentikan jari. Aku benar-benar takut. Aku berharap dia tak menyadari bahwa yang ia lihat adalah aku. Aku gemetar, gelisah. Aku tak bisa membendung tangisku. Aku takut dan aku menangis. Rasa takut, rasa amarah, benci, dan jijik bercampur aduk. Aku berharap ia segera pergi.
Aku berharap ia tak pernah datang di kehidupanku.
Kenapa dia selalu datang menjadi mimpi buruk saat istirahatku.
Inikah yang orang-orang sebut sebagai trauma?