Part 29

 Entah bagaimana aku bisa berada di dalam ruangan ini.

Remang-remang hampir gelap. Seperti ketika petang datang namun kamu lupa menyalakan lampu. Gelap dan suram. Aku susuri ruangan yang penuh benda-benda yang sepertinya sudah lama tebengkalai. Berserakan di mana-mana. Rak-rak seperti di toko-toko itu tersusun dengan sembarangan. Dipenuhi dengan benda-benda yang beragam jenisnya. Ada kardus, ada kain perca dan lainnya.

Aku rasa ruangan ini seperti gudang pabrik. 

Terdengar suara benda bergerak.

Apa aku tidak sendirian di ruangan ini? tapi tak seorang pun yang aku lihat batang hidungnya. Aku susuri lagi perlahan ruangan itu. Dan aku melihat sebuah boneka berbentuk manusia. Mengenakan seragam TNI AD bercorak loreng hijau lengkap dengan atribut dan senapannya. Ukurannya yang sangat besar membuatku kaget. Lebih besar dari ukuran manusia biasa. Tampak seram namun sepertinya tidak membahayakan. Ia berdiri menempel di samping rak. Persis seperti posisi sedang sikap siap sempurna.

Lagi-lagi aku mendengar suara benda bergerak. Dan aku menyadari bahwa itu bukan manusia. Aku mencari jalan keluar, satu pintu yang sepertinya itu pintu masuk namun terkunci rapat. Aku berjalan ke arah lain dan menemukan pintu lain. Terbuka lebar dengan secercah cahaya nampak dari luarnya.

Aku berjalan ke arah sana, dan ternyata tak ada jalan keluar. Hanya sebuah balkon lebar yang menghadap hamparan sawah yang luas. Aku lihat ke kanan dan ke kiri ternyata ada ruangan lain di sekitarku. Tapi aku memutuskan untuk tak menengok ke ruagan-ruangan itu.

Kupandangi hamparan sawah itu lekat-lekat. Indah namun hatiku sakit saat melihatnya. Mungkin langit mendung itu yang mengintimidasiku. Rasa sedih seolah menancap ke dadaku. Namun kali ini aku tidak akan menangis. Aku yakin aku bisa melewati ini semua. Aku tidak takut pada apapun.

Aku kembali masuk, membersamai rak-rak itu, benda-benda yang berserakan, dan boneka besar itu.

Aku duduk terdiam, tak tau apa yang harus aku lakukan. Melihat sekeliling dan merasakan kesedihan yang mendalam.

Aku terperangai, tiba-tiba datang sosok laki-laki yang tergopoh-gopoh berjalan ke arahku. Dia tersenyum sumringah seakan menemukan bongkahan emas. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun namun aku bisa merasakan seolah dia berbicara padaku "gakpapa kan? tenang ya, ayo kita keluar dari sini"

Aku kebingungan namun juga merasa lega.

Belum sempat aku beranjak dari dudukku, tiba lagi seorang perempuan dari pintu luar yang menghadap ke sawah. Dia pun tampak sumringah melihatku.

Mereka berdua tampak saling mengenal satu sama lain. Entah teman, atau pasangan. Atau saudara, tapi sepertinya bukan karena wajah mereka tak begitu mirip.

Kami bertiga beranjak meninggalkan ruangan itu.

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57