Part 30
"Teeeettt teeeet teeettt" Suara bel pulang sekolah berbunyi.
Riuh suara siswa siswi sekolah menengah pertama, berhamburan keluar kelas berdesak-desakan, berlomba-lomba untuk segera keluar dari sekolah itu. Aku ada diantaranya.
Jarak rumah dengan sekolahku sangatlah dekat. Hanya selisih 3 bangunan. Aku berjalan kaki menuju rumahku. Tak langsung berganti pakaian, aku hanya meletakkan tas di kamar kemudian duduk di teras memandangi lalu lalang murid-murid SMP yang lewat di depan rumahku.
Datang seorang perempuan sebayaku, berambut pendek dengan kuncir ekor kuda. Tas selempangnya khas anak muda yang sedang hits saat itu. Dia terlihat sumringah berlari ke arahku. Aku tak mengenalnya. Mungkin dia satu angkatan denganku di SMP itu? Entahlah
"Ayo ikut aku ke rumahku" katanya.
Tanpa basa basi dan belum sempat kubalas ajakannya, ia tiba-tiba menarik lenganku hingga aku beranjak dari dudukku dan pasrah mengikuti langkahnya.
Kami naik bus umum, seperti bus trans** pada umumnya. Terdapat kursi yang saling menghadap dan ada pula besi-besi pegangan yang menggantung di atas bus. Bus penuh saat itu. Dia menyuruh untuk aku saja yang duduk di kursi, sementara dia berdiri berpegangan pada gantungan berwarna kuning itu.
Aku tak mengenalnya, tapi sepertinya ia anak yang baik.
Jauh sekali perjalanan kami, tak terasa matahari pun akan segera menenggelamkan diri.
"Rumah kamu jauh sekali ya, kapan kita akan sampai. Sebenarnya kita mau ke arah mana?" tanyaku padanya.
"Sabar, bentar lagi sampai kok" Balasnya.
Aku pun hanya terdiam menurutinya.
Tak lama setelah percakapan itu, bus berhenti dan dia mengajakku untuk turun.
Kami berdua turun. Namun aku terkejut bukan main, karena tempat itu bukanlah perumahan. Hanya ada hamparan ladang dan hutan lebat di sekitarnya. Aku tanya padanya "Di mana rumahmu?"
Dia menunjuk arah belakangnya, aku pun menengok dan aku terkejut karena yang ia tunjuk adalah tempat pemakaman.
Saat itu juga aku sadari bahwa dia bukanlah manusia.
Tiba-tiba ia berbah menjadi wujud-wujud yang tak bisa aku gambarkan. Wajahnya mendekat ke wajahku hingga aku membeku dan tak bisa berkata kata.
Dengan sekuat tenaga aku lantunkan doa-doa dan dzikir. Ia teriak tepat di depan wajahku. Dan akhirnya dia lenyap seperti tissue yang dibakar api. Lenyap dalam beberapa detik tanpa meninggalkan jejak.