Part 32

 Hadiah apa yang harus aku tunggu?


Semua manusia sedang berjuang menghadapi ujiannya masing-masing. Katanya sih Tuhan memberi ujian sesuai dengan kemampuan hambanya. Tapi, bunuh diri bukankah akibat dari tidak kuatnya menghadapi cobaan? Ah, mungkin itu hanya gangguan mental yang tidak tertangani dengan baik. Coba kalau dia bisa sedikit bersabar dan segera mencari pertolongan profesional, dia akan terselamatkan. Dia bunuh diri artinya dia gagal menyelesaikan ujian. Tapi pada akhirnya dia juga yang menanggung dosa karena bunuh diri. Jadi dia berdosa karena tidak bisa melewati ujian hingga akhir? Apakah konsepnya seperti ini : kalau kita berhasil melewati ujian akan diberi hadiah, dan jika gagal (dalam konteks bunuh diri) maka kita harus menanggung dosa?

Katanya Tuhan memberi ujian sesuai kemampuan? Tapi kenapa ada yang mengaku tidak kuat dan berakhir dengan mengakhiri hidup? Katanya Tuhan maha membolak balikkan hati? Kenapa Tuhan tidak buat saja hambanya berubah pikiran ketika hendak bunuh diri.

Atau.. kita saja yang kurang melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan hidup kita...


Sejak aku kecil, banyak sekali ujian yang aku hadapi. Salah satunya adalah ujian sakit. Dari aku masih sangat kecil pun aku sudah sakit-sakitan.

Flek paru di usia 3 tahun. Bayangkan anak kecil harus rutin minum obat tiap hari selama berbulan-bulan. Itu bener-bener bikin aku trauma. Beranjak remaja, operasi gigi yang tumbuhnya miring di dalam gusi rahang depan. Kemudian DBD, kemudian operasi tumor. Kemudian DBD lagi, sekarang TB Kelenjar. Baru 2 bulan diagnosa TB, tambah lagi diagnosaku yaitu Lupus. Kira-kira hadiah apa yang akan aku dapatkan dari Tuhan? Tak henti-hentinya aku berjuang melawan penyakit penyakit ini

Orang tuaku bercerai. Hubungan dengan ayahku tidak bagus. Aku berkali-kali kehilangan barang-barang dan orang terdekatku sendiri lah yang mengambilnya dariku. Aku difitnah oleh ibu kos mencuri barangnya dia. Aku pernah menarik diri dari sosial karena hampir depresi. Aku benar-benar kehilangan rasa kepercayaan pada orang lain bahkan temanku sendiri. Aku mudah curiga pada orang lain, dan aku sulit sekali menaruh kepercayaanku kepada orang lain bahkan ke pasanganku sendiri.

Berat sekali perjuanganku kala itu. Belum usai traumaku, kini aku diberi penyakit oleh Tuhan, yang secara medis belu ditemukan obat untuk penyembuhan total.

Aku masih mengunggu hadiah yang Tuhan janjikan padaku


Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57