Part 36
Menurut anda, bagaimana kaitannya depresi sebagai akibat kurangnya iman menurut agama dengan depresi yang secara medis dapat dijelaskan penyebabnya yang mana berasal dari kerusakan sel tubuh.
Penyakit kejiwaan kini sudah bisa dijelaskan dalam dunia medis. Bahkan penyakit yang sekarang aku alami yaitu lupus, menyerang saraf tubuh hingga menimbulkan kelainan yang disebut neuropsikiatri. penyakit ini menyerang saraf dan mempengaruhi psikis. Seperti contohnya melakukan suatu hal diluar kesadaran.
Lupus juga bisa menyebabkan penderita merasa melow. Persis seperti yang aku alami.
Sedangkan, menurut orang-orang penyakit kejiwaan itu bersumber dari kurangnya iman. Juga dari godaan setan untuk membuat kita terus merasa sedih, terus merasa khawatir seakan-akan kita tidak percaya dengan ketetapan Tuhan, tidak percaya dengan takdir yang sudah Tuhan atur sedemikian rupa.
Jikalau obat resep dari psikiater bisa membuat kita tenang, lalu apakah sumber kecemasan kita adalah karena kita tidak percaya Tuhan? Kenapa obatnya bukan dengan melatih kita untuk bisa iklhas menerima segala hal.
Jika obat resep dari psikiater bisa membuat kita tenang, apa mungkin penyebab kita selalu cemas adalah kelainan dari sistem saraf yang akhirnya bereaksi terhadap obat
Ada suatu penjelasan..
Orang yang mengalami stress dalam skala panjang maka akan berpengaruh pada kinerja tubuh terutama organ. Gerd, hipertensi karena tegang dalam jangka panjang, masalah otot, sakit kepala dsb.
Jika stress itu akibat dari kurangnya iman, apa betul orang yang tidak beriman itu akan sakit-sakitan sepanjang hidupnya?
Aku rasanya udah gak kuat. Aku gaktau harus bilang ke siapa, rasanya aku selalu sendirian. Aku gakpunya siapa-siapa. Aku malas menjelaskan ke orang-orang seperti apa kondisiku. Karena yang tau dan yang paham ya aku sendiri. Orang lain gak akan paham kondisiku. Kalaupun aku beri tahu, semisal aku gak bisa jalan kaki terlalu cepat. Mereka akan mengiyakan, tapi 1-2 jam kemudian mereka akan lupa, tempo jalan mereka jadi cepat. Karena lupa kalau aku, yang sedang berjalan bersama mereka, tidak bisa menyamai tempo mereka.
Lebih baik aku menarik diri dari mereka. Karena sampai kapanpun yang bisa paham kondisiku ya aku sendiri.
Apa aku egois punya pemikiran seperti itu?
Mereka mau kok dampingin kamu. Mungkin mereka hanya perlu pembiasaan saja. Karena mereka tidak setiap hari membersamaimu, wajarlah jika mereka kadang lupa akan keterbatasanmu dalam beraktivitas.
Aku ini masih muda. Harusnya aku bisa menjelajah kesana kemari. Aku harus mencoba banyak hal, olahraga macam-macam. Pergi liburan ke pulau-pulau yang belum pernah aku kunjungi. Banyak wish list ku yang belum aku penuhi. Tapi kenapa badanku seperti ini? masa mudaku sudah hilang. Gak bisa diulang lagi.
Aku bener-bener benci.
Kalau tau akan jadi begini, sudah dari dulu aku mencoba banyak hal. Aku mau jalan-jalan ke labuan bajo, ke banda neira, ke raja ampat, ke toba, ke sumba. Aku ingin gym, pilates, badminton, basket, bahkan pingpong aku baru coba beberapa kali.
Harusnya aku dari dulu sering-sering ikut event lari. Aku baru coba 2x saat olahraga lari belum se trending sekarang. Dari dulu aku memang suka joging. Karena itu salah satu ativitas stress-release ku. Selain me time dan staycation.
Oh iya, aku dulu sering sekali me time. Aku suka banget jalan-jalan sendirian dan melakukan hal impulsif. Urutannya selalu, makan-nonton-belanja-pulang. Apalagi kalau sekaligus staycation. Di kamar nonton netflix, grabfood jajanan yang jarang aku beli, main make up, foto2 selfie, foto outfit di depan kaca.
Sekarang buat ke mall aja aku gak kuat.
Apa iya aku selamanya kaya gini?
Jam 15.05 WITA aku ngetik ini sambil nahan nangis. Aku lagi di kantor