Part 43

"Pasang sesuatu?"


 "Nona Arvia" panggil perawat.

"Iya" Jawabku dengan terperangah.

Akhirnya tiba juga giliranku untuk melakukan tes MRI. Setelah satu jam menunggu sedari jam delapan pagi tadi.

"Masuk lewat sebelah ya mba, ruangan di kiri masuk aja tunggu di situ" perawat menjelaskan padaku.

Aku mengiyakan dan segera menuju ruangan sesuai dengan petunjuk yang perawat itu katakan. Sampai di ruangan aku terkejut karena ternyata sudah banyak yang mengantri. Aku melihat-lihat kursi mana yang kosong, dan ternyata ada di pojok kanan ruangan. Aku menuju kursi itu, duduk dan langsung memejamkan mata karena aku tau akan memakan waktu lama sampai aku dipanggil kembali.

Waktu berlalu sangat lambat, satu persatu pasien dipanggil masuk ke ruangan yang diberi garis kuning di pintu masuknya. Banyak sekali papan-papan peringatan agar pengunjung tak sembarangan masuk ke ruangan-ruangan itu. Berkali-kali aku melihat jam karena waktu terasa sangat lama. 

Aku putuskan untuk meninggalkan sebentar antrian untuk ke toilet. Ketika aku kembali, antrian belum juga berubah.

Empat jam berlalu, akhirnya tiba giliranku. Aku masuk ke ruangan itu yang ternyata di dalamnya masih ada ruangan-ruangan lagi. 

"Semua perhiasan dilepas ya mba, jam tangan dan kacamata juga. Kalau jilbabnya ada tag mereknya dilepas juga jilbabnya"

"Baik bu" jawabku.

Mau tidak mau aku harus melepas hijabku.

Buram sekali pandanganku, aku yang minus 5 ini tak bisa beraktivitas tanpa kacamata. Namun baiklah kali ini aku harus terima-terima saja, daripada aku yang celaka karena memakai kacamata dengan frame besi ini.

Aku masuk ke ruangan untuk MRI. Berbaringlah aku di mesin menyeramkan itu. Petugas memasangkan headphone di kedua telingaku.

"jangan bergerak ya mba, ini waktunya sekitar 10 menit, kalau mau tidur silakan"

"Mana bisa aku tidur kalau seram begini" celotehku dalam hati.

Petugas itu memutar suara murotal. Perlahan tubuhku masuk ke dalam mesin tabung berwarna putih itu. Benar-benar seperti simulasi alam kubur. Aku langsung teringat semua dosa-dosa ku. Hingga membuat nafasku sesak. Aku menggerak-gerakkan jariku memberi kode untuk petugas, berharap mereka akan mengeluarkanku kembali karena aku takut tempat sempit. Aku sungguh panik. Jantungku berdetak cepat. Nafasku tersengal. Kuambil nafas dalam, kuhembuskan perlahan. Aku tau aku bisa melewati ini.

Aku hanya perlu memejamkan mata dan membayangkan hal-hal yang indah. 

Berhasil! aku bisa menenangkan diriku. Aku berusaha tidur agar tak panik, tapi suara mesin MRI itu terlalu mengganggu dan kadang membuatku kaget.

Pada akhirnya aku bisa melewatinya. Setelah 10 menit, perlahan tubuhku keluar dari mesin tabung itu. 

"Sudah selesai mba, silakan turun dan keluar ya. Untuk hasilnya nanti dikirim ke dokternya langsung"

"Baik terima kasih pak" balasku.

Aku keluar ruangan hendak menuju ruang ganti. Tiba-tiba sudah ada seorang bapak-bapak dan ibu-ibu yang menghadangku dan mencercaku dengan pertanyaan "mba ada pasang sesuatu di sini?" sambil menunjuk ke atas alis di dahi mereka.

Aku bingung mendengar pertanyaan mereka. Apa yang mereka maksud itu kacamata? atau yang lain? Atau jangan-jangan... mereka kira aku pasang susuk?

Apalah mereka ini, membuatku takut saja. Meski aku tahu aku tak pernah melakukan hal-hal seperti itu, tapi ini pertanda buruk apabila memang mereka menemukan sesuatu di hasil MRI ku. Aku menjawab tidak, dengan wajah kebingungan namun sedikit meringis tersenyum karena bagiku ini sungguh lucu. Kenapa mereka langsung menerka bahwa aku memasang sesuatu di wajahku?

Selesai sudah tes MRI ku yang kukira akan singkat ternyata antriannya panjang sekali. Aku pulang kembali ke kantor dengan pikiran yang amburadul. Ada apa dengan hasil tes ku?

Apa ini ada hubungannya dengan dokter spesialis penyakit dalam yang pernah kutemui, beliau mengatakan daya tahan tubuhku sangat lemah, hingga beliau mempertanyakan apakah ada kemungkinan orang tidak suka padaku hingga mengirim sihir padaku...

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57