Part 51

Sering kali kudengar kabar tentang seseorang yang ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya entah karena sakit yang diam-diam merenggutnya, atau sebab lain yang tak kalah kelam.

Kadang aku membayangkan, bagaimana jika suatu hari itu adalah diriku? Ada bagian terdalam dalam hatiku yang diam-diam merindukan lenyap tanpa jejak, pergi tanpa pamit, tanpa meninggalkan pesan, tanpa membekas di ingatan siapa pun.

Andai takdir menuntunku pada tangan yang ingin mengakhiri hidupku, mungkin aku akan menerimanya tanpa perlawanan.

Karena sesungguhnya, yang paling kutakuti… adalah pikiranku sendiri.

Setiap hari, di telinga kiriku, kudengar detak jantungku sendiri seperti dentang bom yang tak pernah meledak, tapi terus menghitung waktu.

Sakit kepala itu menari liar, berpindah dari kiri ke kanan, naik ke ubun-ubun, lalu turun ke pelipis dan menikam mataku. Aku lelah. Sangat lelah. Air mata ingin jatuh, tapi entah mengapa ia seperti malu menampakkan diri.

Dulu, aku adalah jiwa yang mencintai buku. Kini, bahkan satu paragraf pun terasa seperti pendakian yang tak berujung. Semua ini… terlalu melelahkan.

Postingan populer dari blog ini

Part 52

Part 56

Part 57