Part 55
Menangis di depan orang yang baru pertama kali aku temui
Namaku dipanggil, dan perawat itu menyuruhku untuk masuk ruang periksa dua. Aku berjalan menuju pintu dan berharap akan bertemu dengan orang yang sejak kemarin bertempat tinggal di pikiranku. Dia menetap dan mengajakku berbicara sepanjang hari. Tidak, mungkin maksudnya aku yang mengajaknya mengobrol terus-terusan sampai aku lelah dan ingin menangis. Tak hanya sehari dua hari, tapi seminggu dua minggu! aku benar-benar capek.
Kuraih gagang pintu, tarik ke arahku, dan jantungku berdetak kencang. Bukan orang itu yang kuharapkan. Tapi tak apa, tak harus orang itu.
Dimulai dengan aku memperkenalkan diriku, aku bercerita tentang mimpi terburukku. Tangisku pecah, aku kira hanya air mata yang akan numpang lewat tanpa permisi. Tapi ternyata, pertahananku runtuh, aku tak bisa menjelaskan apa-apa, aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhku gemetar, nafasku tersengal tanganku mengepal ingin rasanya memukul diriku sendiri tapi tak mungkin aku lakukan di depan orang asing itu. Ia menyuruhku mengatur napas, tapi tak bisa kulakukan! sudah terlambat.
Aku benci diriku yang tak bisa mengotrol emosiku
Lihatlah, aku jadi kehabisan waktu dengan sia-sia hanya gara-gara tangisan.
Ini adalah pertama kalinya aku menunjukkan sisi terlemahku di depan orang lain. Aku terlihat sangat lemah dan hancur.
Aku berharap dokter yang kutemui itu bisa membantuku.
Satu bulan berselang.
Tak lagi kutemui dokter itu karena beliau sibuk, ah sudahlah memang lelah menjelaskan akar masalahnya satu per satu ke orang yang berbeda-beda setiap kutemui, tapi semoga kali ini aku cocok dengan dokter baru yang akan kutemui ini.
Masuklah aku ke ruang periksa tiga. Dengan antusias aku menceritakan riwayat pertemuanku sebelumnya. Dan seperti biasa dokter melakukan anamnesa dengan memberika pertanyaan-pertanyaan yang ku jawab dengan penuh semangat, tapi lagi-lagi aku mulai menangis.
Itulah akhir pertemuan kami, selalu dengan tangisan.
Aku benar-benar lelah dengan apa yang aku alami.