Postingan

Part 27

Gambar
 Aku sudah cukup bekerja keras. Bahkan lebih dari cukup. Serasa tubuhku ini tak mau kuajak bekerja sama, jika tubuhku bisa berbicara mungkin dia akan memarahiku karena hampir remuk dan hancur. Aku merasa aku harus melakukan ini. Aku ingin menangis tapi sesuatu menahanku. Aku harus tetap menyelesaikan semuanya.  Aku bukan arvia gariella Aku sedih tapi aku harus tetap bekerja keras. Tak ada yang boleh tau kalau aku sedang bersedih. Tak siapapun. Apakah kakak perempuanku menyayangiku? Sepertinya iya. Dia juga bekerja keras untukku.  Aku sedih, tapi aku tak boleh membebani kakakku. Aku harus bekerja keras. Aku lelah Aku sedih, aku ingin teriak. Suatu hari aku lihat kakakku bersama pacarnya. Mereka makan bersama dan berbincang. Aku tak mendengar jelas percakapan mereka namun aku tau kalau kakakku membicarakanku. Dia lelah denganku. Dia muak, dia tak tahan denganku. Aku sakit mendengarnya. Kuputuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Aku berjalan menuju taman dengan pohon besar yan...

Part 26

 Pernahkah kalian tanpa sadar menangis dalam tidur? Baru saja kualami. Entah cemas macam apa yang melekat pada diriku. Malam itu aku ingin istirahat, setelah tubuh lelah melawan angin-angin sore disertai langit cantik yang tak bisa kunikmati karena ia menyakitiku. Malam itu ku coba pejamkan mata dan akupun mulai jatuh terlelap. Perasaan sedih itu muncul, tanpa sadar dahi ku mengernyit. Nafasku terisak. Aku terbangun. Tak ada air mata Hanya ada perasaan sedih, perasaan takut, kecewa, menyesal.  Mimpi-mimpi itu.. dan orang orang di dalamnya

Part 25

 Nyatanya, aku tak sepenting itu... Mungkin benar bahwa aku egois jika memaksakan kehendak pasanganku untuk menuruti permintaanku. Padahal, ia lebih mementingkan teman-temannya. Momen bersama temannya yang tak akan pernah terulang. Sebaliknya denganku. Kami masih akan bertemu setiap hari, tak ada alasan kuat untuk menunda janji kami berdua. Masih ada hari lain yang akan kami temui. Mungkin 2 tahun kedepan baru bisa menunaikan janji? Atau 5th lagi? Yang jelas kami meyakini bahwa rencana-rencana kami masih bisa kami tunda untuk tahun-tahun berikutnya. Yang aku pahami, aku tak boleh egois Dunianya bukan hanya aku Jika memang keputusan itu menurut dia yang paling baik, aku akan terima. Menjaga perasaan temannya dengan mengorbankan perasaanku Toh, perasaanku ini bisa diobati, karena kami masih akan bertemu di hari lain. Tidak dengan temannya Setahun yang lalu sepertinya, aku pernah memintanya untuk menemaniku berkeliling di kota tempat tinggalnya. Aku sudah memajukkan jadwal ku ke jogja...

Part 24

 Part 24 di tanggal 24 April 2022 Malam sebelum 24, aku kembali merasakannya. Datang bersama fikiran-fikiran yang dahulu pernah mengikatku. “Apa aku cukup berharga?” Tepat seperti yang pasanganku katakan padaku. “Berapa banyak validasi yang kamu perlukan?” Dia benar. Aku tak akan pernah cukup, karena sejatinya aku memang selalu tidak cukup. Mau berkali pun seseorang mengatakan aku ini cantik, aku ini pintar, aku tidak akan mempercayainya. Karena yang aku percayai, aku tidak cukup cantik. Dan aku tidak cukup pintar. Aku tidak cukup berguna bagi siapapun Aku akan berhenti mempertanyakan. Berhenti meminta validasi apakah aku sudah cukup untukmu, karena nyatanya aku tidak pernah cukup. Untuk diriki sendiri dan orang lain. Malam itu aku membuka instagram. Aku lihat profilku. Aku berfikir untuk apa aku memposting itu semua? Apa karena aku butuh pengakuan? Kuputuskan untuk mengarsip semua postinganku. Aku tertidur bersama semua kecemasanku. Terbangun dengan rasa bersalah. Atas semua perbu...

Part 23

 22.09 Its been a week i guess Perasaan-perasaan itu muncul ketika malam datang. Rasa sepi, rasa penyesalan, rasa khawatir. Seperti malam ini, aku merasa ada yang salah. Aku ingin menangis Hanya menangis. Seperti biasa, menangis. Dan nyatanya aku menangis saat aku menulis ini. Aku bingung apa yang membuatku menangis. Bukan. Aku bingung apa yang membuatku merasakan perasaan seperti ini. Aku bingung menjelaskannya, aku hanya bisa menangis Mungkin aku lelah? Lelah akan apa? Oh, sepertinya aku memang lelah. Aku lelah merasakan perasaan seperti ini. Membuatku ingin menangis dan aku lelah terus-terusan menangis. Aku bingung

Part 22

Gambar
Dulu ia adalah anak yang periang, suka menceritakan banyak hal, suka bernyanyi, suka berjoget. Ketika dia sedang bahagia dengan harinya, riang bernyanyi, ia dihentikan oleh ayahnya. Takut mengganggu tetangga katanya. Dulu ia terbiasa menangis dengan tanpa suara, sembunyi-sembunyi takut dilihat orang. Hanya dia saja yang perlu tahu bahwa ia sedang bersedih. Dia suka sekali bersembunyi di halaman samping dan belakang rumah. Bersandar di tembok, berjongkok dan menangis tersedu-sedu. Sambil menatap semut yang belalu lalang di tanah. Suatu hari dia sedang bermain bersama teman-temannya di samping dekat rumah, Ayah dan kakakknya lewat naik motor. "iaa mau ikut gak?" tanya Ayahnya. Tapi belum sempat dijawab, mereka sudah pergi duluan. Dia tidak suka. Kenapa hanya kakak yang diajak. Dia pulang dengan rasa marah. Dia marah-marah ke Ibunya, meminta lain waktu dia yang diajak keluar tanpa kakak. Ibunya hanya mengiyakan.  Di ruang tamu, dia menunggu ayah dan kakaknya pulang. Mereka pun t...

Part 21

 20 Maret 2022 Seperti apa rasanya mendapatkan apresiasi? Pujian? Atau sekedar ucapan syukur akan keberadaanmu? Aku tidak tahu. Bahkan mungkin kehadiranku di dunia pun tidak diinginkan oleh orang tuaku. Orang bilang, anak terakhir pasti paling dimanja. Minta apapun dituruti. Itu semua tidak terjadi padaku. Yang aku rasakan adalah orangtuaku sudah tidak se-tertarik ketika mereka punya anak pertama. Excitednya sudah dihabiskan di anak pertama sampai anak ketiga. Ketika tahu alasan ayah menikah lagi dengan wanita lain yaitu karena dia ingin punya anak laki-laki, aku jadi paham kenapa keberadaanku tidak begitu diharapkan. Anak pertama dan kedua perempuan. Katanya, Ibuku sempat melahirkan anak laki-laki, namun meninggal ketika masih bayi. Percobaan ketiga, yang keluar perempuan. Percobaan keempat, yang keluar aku. Sudah tidak excited lagi pastinya :) Kakakku yang ketiga, berjarak 2 tahun dariku. Kebetulan dia anaknya jenius, berbeda sekali denganku. Bodoh, pemalas dan pembangkang. Capek...