Postingan

Part 34

Aku berada di dalam suatu ruangan, berdinding kaca dengan lapisan film yang membuatnya tak bisa tembus pandang dari arah luar. Dengan design modern, terdapat layar lcd tepat di depan tengah ruangan. Maja oval yang kami tempati,  dan seorang wanita paruh baya sedang berbicara menginstruksikan sesuatu. Kami semua memperhatikan. Rapat selesai, kami berhamburan keluar dari ruangan modern itu. Aku menyaksikan prosesnya. Persiapannya, sangat ramai. Orang berlalu lalang, mengangkut banyak sekali peralatan. Ada di suatu tempat, seperti gedung perkantoran namun bergaya bak villa eksklusif. Aku berjalan menjauhi gedung itu dan menghampiri kerumunan. Set up selesai, aku bersama dua rekanku akan segera take shot. Scene villa berhantu. Aku bersama lawan mainku seorang pria, berkunjung ke villa tersebut. Disambut oleh seorang security yang akan mengantarkan kami ke lobby. Kami bertiga masuk ke dalam lift. Tombol lantai telah ditekan, mesin lift naik perlahan. Tiba-tiba lift terjun! Turun ke lant...

Part 32

 Hadiah apa yang harus aku tunggu? Semua manusia sedang berjuang menghadapi ujiannya masing-masing. Katanya sih Tuhan memberi ujian sesuai dengan kemampuan hambanya. Tapi, bunuh diri bukankah akibat dari tidak kuatnya menghadapi cobaan? Ah, mungkin itu hanya gangguan mental yang tidak tertangani dengan baik. Coba kalau dia bisa sedikit bersabar dan segera mencari pertolongan profesional, dia akan terselamatkan. Dia bunuh diri artinya dia gagal menyelesaikan ujian. Tapi pada akhirnya dia juga yang menanggung dosa karena bunuh diri. Jadi dia berdosa karena tidak bisa melewati ujian hingga akhir? Apakah konsepnya seperti ini : kalau kita berhasil melewati ujian akan diberi hadiah, dan jika gagal (dalam konteks bunuh diri) maka kita harus menanggung dosa? Katanya Tuhan memberi ujian sesuai kemampuan? Tapi kenapa ada yang mengaku tidak kuat dan berakhir dengan mengakhiri hidup? Katanya Tuhan maha membolak balikkan hati? Kenapa Tuhan tidak buat saja hambanya berubah pikiran ketika hendak...

Part 31

 Hari yang cerah untuk aku bersantai. Aku bersantai di kasurku yang menghadap jendela kamar, memandangi cerahnya langit yang biru. Tak sadar aku jatuh terlelap. Aku terbangun dengan perasaan tenang dan nyaman. Melihat cerahnya cuaca dengan dihiasi pelangi, membuatku berandai-andai jika aku bisa melayang terbang ke langit dan menyentuh pelangi itu. Pasti akan sangat mengasyikkan. Kupandangi lekat-lekat langit yang terlihat dari seberang jendela kamarku itu. Tapi, kenapa aku merasa makin lama wajahku makin mendekat ke jendela. Kenapa aku merasa badanku jadi sangat ringan. Apa aku sedang sakit? Apa aku sedang demam hingga aku berhalusinasi? Makin dekat wajahku dengan jendela itu. Aku coba menengok ke belakang dan betapa kagetnya aku. Ternyata aku sedang terbang. Tapi, badanku masih ada di kasur, dan masih tidur! Pasti ini hanya mimpi. Tapi ini terasa sangat nyata. Aku bisa melihat tubuhku dengan jelas dan nyata.  Aku pejamkan mata karena aku makin dekat dengan ventilasi jendela, ...

Part 30

 "Teeeettt teeeet teeettt" Suara bel pulang sekolah berbunyi. Riuh suara siswa siswi sekolah menengah pertama, berhamburan keluar kelas berdesak-desakan, berlomba-lomba untuk segera keluar dari sekolah itu. Aku ada diantaranya. Jarak rumah dengan sekolahku sangatlah dekat. Hanya selisih 3 bangunan. Aku berjalan kaki menuju rumahku. Tak langsung berganti pakaian, aku hanya meletakkan tas di kamar kemudian duduk di teras memandangi lalu lalang murid-murid SMP yang lewat di depan rumahku. Datang seorang perempuan sebayaku, berambut pendek dengan kuncir ekor kuda. Tas selempangnya khas anak muda yang sedang hits saat itu. Dia terlihat sumringah berlari ke arahku. Aku tak mengenalnya. Mungkin dia satu angkatan denganku di SMP itu? Entahlah "Ayo ikut aku ke rumahku" katanya. Tanpa basa basi dan belum sempat kubalas ajakannya, ia tiba-tiba menarik lenganku hingga aku beranjak dari dudukku dan pasrah mengikuti langkahnya. Kami naik bus umum, seperti bus trans** pada umumnya...

Part 29

 Entah bagaimana aku bisa berada di dalam ruangan ini. Remang-remang hampir gelap. Seperti ketika petang datang namun kamu lupa menyalakan lampu. Gelap dan suram. Aku susuri ruangan yang penuh benda-benda yang sepertinya sudah lama tebengkalai. Berserakan di mana-mana. Rak-rak seperti di toko-toko itu tersusun dengan sembarangan. Dipenuhi dengan benda-benda yang beragam jenisnya. Ada kardus, ada kain perca dan lainnya. Aku rasa ruangan ini seperti gudang pabrik.  Terdengar suara benda bergerak. Apa aku tidak sendirian di ruangan ini? tapi tak seorang pun yang aku lihat batang hidungnya. Aku susuri lagi perlahan ruangan itu. Dan aku melihat sebuah boneka berbentuk manusia. Mengenakan seragam TNI AD bercorak loreng hijau lengkap dengan atribut dan senapannya. Ukurannya yang sangat besar membuatku kaget. Lebih besar dari ukuran manusia biasa. Tampak seram namun sepertinya tidak membahayakan. Ia berdiri menempel di samping rak. Persis seperti posisi sedang sikap siap sempurna. Lag...

Part 28

Sebenarnya apa itu trauma? Kenapa aku benci mendengar kata trauma. Seolah-olah orang yang mengaku dirinya punya trauma adalah orang yang lemah. Padahal, peristiwa sudah berlalu untuk apa dia terus-terusan mengingat kejadian itu? Aku kah orang lemah itu?  Bertahun-tahun lalu peristiwa-peristiwa itu terjadi. Tapi mengapa perasaan takut dan benci ini masih aku rasakan sampai sekarang? Sepertinya aku memang terlalu lemah. Lagi-lagi aku tertidur dengan segala kecemasan yang datang dari semua penjuru arah. Dalam mimpiku aku berada di suatu kamar yang nampak asing tapi aku tahu bahwa itu adalah kamarku sendiri. Menatap langit dari sudut bawah jendela adalah hal menenangkan untukku. Sampai suatu ketika manusia itu muncul di seberang jendela. Aku membenamkan wajahku agar tak tampak olehnya. Berharap ia segera pergi dan tak masuk ke rumahku atau bahkan mengetahui bahwa aku ada di sini. Aku angkat kepalaku agar bisa menilik manusia itu dari balik jendela.  Oh tidak, mata kami bertemu. Su...

Part 27

Gambar
 Aku sudah cukup bekerja keras. Bahkan lebih dari cukup. Serasa tubuhku ini tak mau kuajak bekerja sama, jika tubuhku bisa berbicara mungkin dia akan memarahiku karena hampir remuk dan hancur. Aku merasa aku harus melakukan ini. Aku ingin menangis tapi sesuatu menahanku. Aku harus tetap menyelesaikan semuanya.  Aku bukan arvia gariella Aku sedih tapi aku harus tetap bekerja keras. Tak ada yang boleh tau kalau aku sedang bersedih. Tak siapapun. Apakah kakak perempuanku menyayangiku? Sepertinya iya. Dia juga bekerja keras untukku.  Aku sedih, tapi aku tak boleh membebani kakakku. Aku harus bekerja keras. Aku lelah Aku sedih, aku ingin teriak. Suatu hari aku lihat kakakku bersama pacarnya. Mereka makan bersama dan berbincang. Aku tak mendengar jelas percakapan mereka namun aku tau kalau kakakku membicarakanku. Dia lelah denganku. Dia muak, dia tak tahan denganku. Aku sakit mendengarnya. Kuputuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Aku berjalan menuju taman dengan pohon besar yan...