Postingan

Part 57

2023 Tahun yang tak pernah aku lupakan dan akan selalu membekas dalam hidupku. Awalnya aku kira aku hanya mengalami sakit biasa yang orang alami sehari dua hari atau paling lama seminggu. Tapi saat itu aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Aku terus-terusan kembali ke IGD dan rawat inap. Setiap aku selesai rawat inap, tubuhku tidak pernah benar-benar pulih. Bahkan salah satu dokter yang menjadi DPJP ku (Dokter Penanggung Jawab Pasien) sempat menanyaiku "kamu merasa ada yang jahat sama kamu? ada yang gak suka sama kamu? Coba oles minyak ini ke leher, terasa panas gak. Kamu harus baca Al-Quran surah xxx empat puluh kali. Saya curiga ada yang kirim sesuatu ke kamu" Aku hanya tersenyum kecil saat itu, tentu aku mengikuti saran dokter untuk rajin mengaji dan ibadah. Karena memang sudah kewajibanku untuk beribadah sebagai muslimah. Lalu ketika aku rawat inap lagi dan berganti DPJP dengan dua dokter rawat bersama, mereka sepakat bahwa terdapat indikasi aku terkena autoimun. Bagai...

Part 56

 THE ART OF MANIPULATION By R.D. Asti - Manipulasi itu kata yang netral. Persepsi dan reaksi kitalah yang membuatnya menjadi positif atau negatif. Selain itu, manipulasi itu ada di mana-mana dan bisa dilakukan oleh siapa saja -      Sebulan yang lalu aku baru saja selesai membaca sebuah buku yang berjudul The Art of Manipulation karya R.D. Asti. Aku membelinya secara random, karena kehabisan bahan bacaan. Namun ternyata buku ini cukup memberi insight baru untukku, juga membuatku mengenal diriku sendiri apakah aku termasuk orang yang manipulatif? Atau justru setelah membaca buku ini, dalam pikiranku jadi muncul nama-nama orang di sekitarku yang sering menggunakan teknik manipulasi dalam kesehariannya? Haha.      Aku akan mencoba merangkum apa yang sudah aku baca dalam buku ini.      Manipulasi adalah praktik menggunakan taktik tidak langsung untuk mengendalikan perilaku dan emosi orang lain. Meskipun sebenarnya sering dianggap negatif, ma...

Part 55

 Menangis di depan orang yang baru pertama kali aku temui Namaku dipanggil, dan perawat itu menyuruhku untuk masuk ruang periksa dua. Aku berjalan menuju pintu dan berharap akan bertemu dengan orang yang sejak kemarin bertempat tinggal di pikiranku. Dia menetap dan mengajakku berbicara sepanjang hari. Tidak, mungkin maksudnya aku yang mengajaknya mengobrol terus-terusan sampai aku lelah dan ingin menangis. Tak hanya sehari dua hari, tapi seminggu dua minggu! aku benar-benar capek. Kuraih gagang pintu, tarik ke arahku, dan jantungku berdetak kencang. Bukan orang itu yang kuharapkan. Tapi tak apa, tak harus orang itu. Dimulai dengan aku memperkenalkan diriku, aku bercerita tentang mimpi terburukku. Tangisku pecah, aku kira hanya air mata yang akan numpang lewat tanpa permisi. Tapi ternyata, pertahananku runtuh, aku tak bisa menjelaskan apa-apa, aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhku gemetar, nafasku tersengal tanganku mengepal ingin rasanya memukul diriku sendiri tapi tak...

Part 54

Metamorfosis - Franz Kafka-   Yogyakarta, 25 November 2025 Sore itu aku mengunjungi sebuah mal yang sepi pengunjung dan nampak akan menjadi mal yang mulai dilupakan masyarakat jogja. Begitu banyak toko tutup dan hanya menyisakan tenant-tenant kecil termasuk book fair yang aku incar. Aku mendekati sebuah buku yang cover nya berupa lukisan abstrak indah. Sudah lama aku melirik buku ini namun tak kunjung masuk ke keranjang. Hingga detik akhir seleksi pemilihan buku yang akan aku pilih untuk aku baca di perjalanan pulang besok, akhirnya aku memilih dua buah buku, salah satunya adalah Metamorfosis karya Franz Kafka. Aku pilih buku itu pada dasarnya karena halamannya sedikit haha! Sehingga bisa aku selesaikan dalam sekali baca di kereta nanti. _____________________________________________________________________ Adalah sebuah mimpi buruk ketika kamu bangun dari tidur dan menemukan bahwa tubuhmu telah berubah menjadi kecoa. Serangga yang sepertinya tak ada satu orang pun yang mau mengangg...

Part 53

 Bandung, 13 Oktober 2025 Untuk apa aku terus-terusan mengucapkan penjelasan-penjelasan yang tak seorang pun bisa mendengar? Aku berdialog dalam kepalaku sendiri sampai aku lelah. Aku hanya ingin menangis tapi aku tak punya tempat Untuk apa kamu memutuskan ke Bandung sendirian saat tubuhmu saja mengajak istirahat? Aku kira bisa mengalihkan tangisanku dengan bepergian ke tempat lain, tapi ternyata bukan ini yang aku butuhkan. Yang kulakukan hanya memilih tempat lain untuk menangis. Kenapa begitu? Nyatanya kepalaku tetap berisik, wajahku tetap tegang tak bisa tersenyum, tanganku tremor tak terkendali, mataku tetap tiba-tiba basah dan nafasku yang kadang tersengal. Aku merasa cara ini tak mempan lagi, aku akan pulang.

Part 52

 THE FIRST BOOK THAT MADE ME CRY Sudah tiga hari aku terbaring di kasur. Sakit kepala yang tak kunjung usai membuatku enggan untuk bertemu matahari di luar sana. Tapi, hari ini aku ingin menentangnya. Nyeri yang masih membuatku meringis tiap aku melakukan gerakan besar, aku akan menjadikannya teman. Karena memang sejak aku remaja ia sudah kerap bermukim di kepalaku. Sudah menahun tinggal di dalam tempurung kepala ini. Aku bersiap menuju mal yang tak terlalu besar namun menjadi salah satu destinasi favorit warga Samarinda. Di dalamnya terdapat sebuah cafe, dan itulah tujuan utamaku. Makan siang, membaca buku dan menghabiskan waktu. Kali ini aku beranikan diri untuk menenggak minuman berkafein yang sejak dulu aku hindari karena asam lambungku menolak keras. Selama aku isi perut dulu dengan makanan berat, aku rasa tak mengapa. Aku sudah muak dengan obat-obat pereda nyeri yang nyatanya tak menghilangkan nyeri kepalaku ini, aku akan coba minum kafein siapa tau bisa sedikit mengurangi ny...

Part 51

Sering kali kudengar kabar tentang seseorang yang ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya entah karena sakit yang diam-diam merenggutnya, atau sebab lain yang tak kalah kelam. Kadang aku membayangkan, bagaimana jika suatu hari itu adalah diriku? Ada bagian terdalam dalam hatiku yang diam-diam merindukan lenyap tanpa jejak, pergi tanpa pamit, tanpa meninggalkan pesan, tanpa membekas di ingatan siapa pun. Andai takdir menuntunku pada tangan yang ingin mengakhiri hidupku, mungkin aku akan menerimanya tanpa perlawanan. Karena sesungguhnya, yang paling kutakuti… adalah pikiranku sendiri. Setiap hari, di telinga kiriku, kudengar detak jantungku sendiri seperti dentang bom yang tak pernah meledak, tapi terus menghitung waktu. Sakit kepala itu menari liar, berpindah dari kiri ke kanan, naik ke ubun-ubun, lalu turun ke pelipis dan menikam mataku. Aku lelah. Sangat lelah. Air mata ingin jatuh, tapi entah mengapa ia seperti malu menampakkan diri. Dulu, aku adalah jiwa yang mencintai buku. Kin...

Part 50

Terbagi menjadi tiga section, JONATHAN, SORE dan WAKTU. Mereka lah pemeran utama dalam cerita ini. Sore selalu berusaha untuk merubah takdir bahwa dalam beberapa tahun ke depan Jonathan akan meninggal karena serangan jantung. Sore ingin merubah kebiasaan Jonathan agar memiliki pola hidup yang lebih sehat dan bisa hidup lebih lama. Sore juga ingin mencoba memperbaiki hubungan Jo dengan papanya yang tidak akur. Setiap kali Sore melakukan hal yang akan membuat takdir berubah, semesta akan looping dan Sore harus mengulang dari hari pertama bertemu Jo di masa lalu, dan akan terus begitu. Time traveling ini pun menggerus tubuh Sore, tubuhnya akan melemah terutama ketika ia merasakan jantungnya berdetak kencang ia akan mimisan dan pingsan, yang kemudian akan looping kembali ke hari pertama bertemu Jo di masa lalu itu. Seiring berjalannya waktu Sore sadar, bahwa ada tiga hal yang tidak bisa dirubah. Masa lalu, rasa sakit, dan kematian . Sore tidak bisa merubah masa lalu Jo. Sore tidak bisa mer...

Part 49

 Aku berjalan di sebuah basement. Dari kejauhan tampak sosok laki-laki tegap tinggi berisi. Tubuhnya kekar bak atlet timnas. Cara berjalannya yang mantap layaknya model. Mengenakan sweater coklat dan bertopi. Di tangan kirinya ia membawa bungkusan kresek putih yang sedikit transparan mirip seperti kantong kresek indomaret. Mungkin ia baru saja belanja. Aku menundukkan pandanganku karena kami sebentar lagi akan berpapasan. Aku memang selalu menghindari bertatap muka dengan orang asing, dan juga tak mau terlihat seolah angkuh dengan mendongakkan kepala dan pandangan tegak lurus. Namun tiba-tiba aku mendengar derap langkah orang itu semakin keras. Aku angkat pandanganku dan betapa terkejutnya aku ternyata ia berjalan cepat menghampiriku. Matanya membelalak, tangannya mengepal terangkat ke atas dan sedikit lagi mengenai kepalaku. Dia mengayunkan kepalan tangannya ke arahku, aku memejamkan mataku dan -------- Mataku terbuka, nafasku terengah-engah, keringatku bercucuran. Ternyata ini mi...

Part 48

 Gema azan berkumandang, aku segera bangkit dari singgasana empuk ku, yang sebenarnya tak se-empuk itu. Meski sudah kutumpuk jadi dua lapis, namun pada akhirnya tak memberi kenyamanan yang luar biasa untuk raga ku yang rapuh ini. Tapi tetap, akan menjadi kasur yang selalu aku rindukan. Segera aku membasuh wajahku dengan air wudhu lalu kugerakkan tubuhku sesuai dengan yang diajarkan dalam agamaku. Aku biasa melakukannya lima kali sehari. Tidak, mungkin tujuh sampai sembilan kali sehari. Aku cukup ambisius dalam hal ini.  Ingin rasanya aku kembali berbaring, tapi mataku tak bisa diajak kompromi. Mereka sepasang itu segar sekali kelihatannya, sampai enggan untuk menyentuh kasur. Akhirnya kuputuskan untuk meneruskan bacaanku, yaitu buku berjudul "Semua Ikan di Langit" karya Ziggy.  Aku tenggelam oleh buku itu, tak terasa jendela kamar sudah mulai terlihat menyala. Artinya matahari mulai menampakkan diri. Kalau matahari bisa bicara mungkin dia akan berkata "Halooo gaes, welco...

Part 47

 The Camera I saw you Just sitting there, lay on the wall. Seems like the day was so hard huh?  I watched in silence, my eyes were wet. Wondering what you thinking about. Is it me? Or.. her? You looked tired like you were carrying thoughts you didn't know how to put down. And then mono (my cat) came to you, she knew that you need touch. You ran your finger through her fur. She was right there for you. She knows everything than us. It hurt to see you there, so quiet, so heavy with something I couldn’t name. But the deeper pain was not knowing what was on your mind. Maybe you were trying to figure out how to say goodbye without saying it.  Maybe… you were trying to find a way to let me go --------------------------------------------------- I was send a text while i'm watching you So you know that im right here Even we did the same pose while we texting. Then my eyes were wet again.

Part 44

Darah siapa? Lagi lagi ruangan remang-remang. Aku sendirian di sini, aku tak bisa melihatnya tapi aku bisa merasakan ada sosok di depanku. Dia akan menyerangku, aku harus melakukan pertahanan diri. oh tidak! darah mencuat ke mana-mana memenuhi dinding ruang tamu ku.  Aw! tanganku teriris, darahku bercampur dengan darah-darahnya. Bagaimana ini?! Jika polisi menyelidiki dan menemukan ada darahku, pasti aku yang akan dicurigai. Datang kerumunan orang-orang yang wajahnya menganga karena terkejut. Mereka segera meraihku, menjauhkanku dari tempat itu dan mengobatiku. Kenapa mereka baik padaku? Apa mereka tidak menaruh curiga padaku?  Beberapa hari berlalu.. Aku sudah sembuh, tapi tidak dengan traumaku. Aku depresi karena harus menghadapi ini semua. Pacarku mengajakku untuk pergi traveling untuk menyembuhkan pikiranku. Kami bepergian menaiki transportasi umum. Kami ke stasiun, bandara dan tempat-tempat ramai lainnya. Ini membuatku lelah. Sama sekali tak meyembuhkanku. Aku lelah, aku ...

Part 43

"Pasang sesuatu?"  "Nona Arvia" panggil perawat. "Iya" Jawabku dengan terperangah. Akhirnya tiba juga giliranku untuk melakukan tes MRI. Setelah satu jam menunggu sedari jam delapan pagi tadi. "Masuk lewat sebelah ya mba, ruangan di kiri masuk aja tunggu di situ" perawat menjelaskan padaku. Aku mengiyakan dan segera menuju ruangan sesuai dengan petunjuk yang perawat itu katakan. Sampai di ruangan aku terkejut karena ternyata sudah banyak yang mengantri. Aku melihat-lihat kursi mana yang kosong, dan ternyata ada di pojok kanan ruangan. Aku menuju kursi itu, duduk dan langsung memejamkan mata karena aku tau akan memakan waktu lama sampai aku dipanggil kembali. Waktu berlalu sangat lambat, satu persatu pasien dipanggil masuk ke ruangan yang diberi garis kuning di pintu masuknya. Banyak sekali papan-papan peringatan agar pengunjung tak sembarangan masuk ke ruangan-ruangan itu. Berkali-kali aku melihat jam karena waktu terasa sangat lama.  Aku putuska...

Part 42

Hari berlalu, dan penyakitku semakin menyerang tubuhku. Sudah berapa kali aku berkunjung ke ruangan ini. Instalasi gawat darurat. Orang-orang selalu panik ketika aku datang. Entah mengapa kali ini ayah ada bersamaku. Tak seperti biasanya. Aku bingung namun aku memilih abai. Kondisi tubuhku sudah sulit, dokter memvonis bahwa aku harus mendapat donor. Tak kusangka ayahku lah yang akan menjadi pendonor. Aku begitu terkejut tapi aku tak mau memikirkannya, aku harus memikirkan diriku sendiri. aku sedikit berjalan kaki, namun aku terhenti karena nafasku tersengal. Orang-orang mengerumuniku, petugas medis menepuk-nepuk punggungku. Aku hampir meninggal. Aku diantar ke kamar ku, dan sekilas aku melihat ayahku sedang terbaring di kasur pasien dengan selang terpasang di badannya. Tak biasanya aku melihat pemandangan ini. Biasanya aku akan takut jika bertemu ayah. Tapi tidak kali ini, aku sangat berterimakasih padanya. ayah, semoga kerelaan berkorban untukku tidak hanya dalam mimpi. Aku sudah tak ...

Part 41

 Tak biasanya aku bangun sepagi ini. Kuraih ponsel di atas meja. Kucing hitam putih bernama Mono menghampiriku dan mengendus pipiku. Ucapan selamat pagi mungkin? Secara otomatis aku meletakkan ponselku dan lebih memilih untuk mengelus-elus kucing itu. Begitulah rutinitas pagiku. Aku bangun dari kasurku, pergi menuju dapur dan memasak sarapan. Aku tahu aku sangat bersemangat pagi ini. Aku ingin melakukan semua hal. Mencuci piring, menyapu dan mengepel. Mengisi mangkuk makanan Mono, air minum Mono, dan membersihkan kotak kotorannya.  Setelah aku selesai melakukan semuanya, ternyata aku masih punya sisa waktu. Aku melihat-lihat isi lemari dan memilih pakaian apa yang akan aku kenakan hari ini untuk ke kantor. Dan aku memutuskan untuk memakai nuansa biru. Dengan celana bahan berwana hitam bermodel kulot, atasan kemeja biru muda dirangkap dengan sweater batwing berwarna biru dongker. Dan jilbab warna ungu muda kebiruan. Aku putuskan memakai sweater karena akhir-akhir ini cuaca seda...

Part 40

 'Kenapa aku harus melakukan ini. Kapan aku bisa istirahat.' bisikku dalam hati. Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela kamar. Sudah pagi, tapi aku masih termenung di atas kasur tak berkutik. Menatap langit-langit kosong dengan pikiran yang juga kosong. Aku tak punya pikiran apapun tapi mengapa kepala dan tubuh ini rasanya berat sekali. Aku tau aku harus bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Tapi rasanya tubuh ini terlalu berat. 'Tak bisa kah aku berhenti hidup untuk hari ini saja?' Aku meraih handphone di atas meja untuk melihat jam berapa sekarang. Pukul 06.45 pagi. Akhirnya aku bangkit dari kasur dengan rasa malas yang tetap mengganggu. Mandi, mengenakan seragam, makan dan minum obat. Aktivitas ringan yang biasanya bisa aku lakukan dengan mudah, tapi akhir-akhir ini rasanya berat sekali. Tiap selesai lima atau enam gerakan, aku selalu terhenti dan pikiranku kosong. Rasanya sangat berat untuk bisa bangkit dan kembali melanjutkan aktivitas. Aku in...

Part 39

 Aku melihat dari kejauhan. Garis polisi mengelilingi tempat itu. Tapi, mengapa masih ramai orang berlalu lalang melintasinya. Meski dijaga ketat oleh petugas-petugas berompi biru. "mau cari makan gak ke sebelah sana? kita jalan pelan-pelan aja lewat situ sambil liat situasi" temanku mengajak. Perempuan yang memiliki tujuan sama denganku. Aku mengiyakan. Akhirnya kami berjalan melintasi garis itu dan mengarah ke seberang. Ia menggandeng lengan kananku. Kami berjalan perlahan sambil mengamati kondisi sekitar. Ada warung mie ayam bakso di sebelah kanan jalan. Persis di sebelah garis polisi. Kami tidak membeli makanan, karena kami sama-sama tahu bahwa ini adalah kedok kami untuk bisa berjalan melihat situasi. Kami berhenti dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan kosong dengan karpet tebal, mungkin itu adalah masjid. Kami berbincang sebentar dan melihat ke arah luar jendela masjid. Jendela itu mengarah ke sebuah area tempat wisata. Kami menitik seorang pria muda mengenakan kem...

Part 38

Gambar
  "Jika kamu merasa kehilangan segalanya, ingatlah, pohon kehilangan daunnya setiap tahun, namun mereka tetap berdiri tegak dan menunggu hari-hari yang lebih baik untuk datang" -NN- Bukankah pohon menggugurkan daunnya memang karena itu yang mereka butuhkan? mereka sengaja menanggalkan daun-daun yang sudah membersamai sejak daun itu tunas hingga akhirnya tak terpakai lagi hanya karena pohon itu harus beradaptasi dengan cuaca yang panas. Bagaimana dengan nasib daun-daun itu? mereka rela berkorban agar pohon bisa tetap melanjutkan hidup. Apa pohon punya akal seperti manusia? kenapa kita harus menjadi pohon yang rela kehilangan daunnya padahal itu adalah akibat dari keegoisan pohon itu sendiri. Daun tidak dengan sengaja menggugurkan dirinya, tapi pohonlah yang membuat daun harus melepaskan dirinya.

Part 37

Kata siapa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Ayahku adalah penyumbang trauma terbesar dalam hidupku. Hingga sekarang umurku 25 tahun, trauma-trauma itu masih melekat dalam diriku. Selama aku hidup aku gak bisa merasakan cinta dari sosok ayah. Yang ada hanya rasa takut dan trauma. Hingga akhirnya membentuk diriku sbg pribadi yang tidak paham konsep cinta dan kasih sayang. Aku selalu menganggap tidak ada orang yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus. Akan selalu ada maksud dan tujuan dibalik sebuah hubungan. Aku menganggap orang akan mudah meninggalkan dan mengabaikanku. Mungkin iya kamu bisa menerima dan tahan dengan segala kekurangan pasanganmu, tapi tidak dengan anakmu. Karena anak tidak bisa memilih siapa yang akan jadi ayahnya.  Akibat dari kesalahan memilih pasangan mungkin bisa kita terima untuk diri sendiri. Solusinya ya berpisah. Tapi bagaimana dengan anak?  Andai ibuku tidak menikah dengan ayahku, apa hidup ibuku dan anak-anaknya akan lebih baik?

Part 36

Menurut anda, bagaimana kaitannya depresi sebagai akibat kurangnya iman menurut agama dengan depresi yang secara medis dapat dijelaskan penyebabnya yang mana berasal dari kerusakan sel tubuh. Penyakit kejiwaan kini sudah bisa dijelaskan dalam dunia medis. Bahkan penyakit yang sekarang aku alami yaitu lupus, menyerang saraf tubuh hingga menimbulkan kelainan yang disebut neuropsikiatri. penyakit ini menyerang saraf dan mempengaruhi psikis. Seperti contohnya melakukan suatu hal diluar kesadaran. Lupus juga bisa menyebabkan penderita merasa melow. Persis seperti yang aku alami. Sedangkan, menurut orang-orang penyakit kejiwaan itu bersumber dari kurangnya iman. Juga dari godaan setan untuk membuat kita terus merasa sedih, terus merasa khawatir seakan-akan kita tidak percaya dengan ketetapan Tuhan, tidak percaya dengan takdir yang sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Jikalau obat resep dari psikiater bisa membuat kita tenang, lalu apakah sumber kecemasan kita adalah karena kita tidak percaya Tu...